Ratusan Mahasiswa MIPA Menuntut Perbaikan Kualitas Pendidikan

Ratusan Mahasiswa MIPA Menuntut Perbaikan Kualitas Pendidikan

Mataram – Ratusan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Alam Universitas Mataram (FMIPA UNRAM) melakukan Aksi Dengar Pendapat di depan Gedung FMIPA, Kamis (31/10). Mahasiswa membawa 12 tuntutan untuk kesejahteraan FMIPA. Dalam Aksi Dengar Pendapat dihadiri oleh Dekan dan seluruh Wakil Dekan (WD) FMIPA.

Mahasiswa FMIPA menuntut perbaikan dari semua aspek untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, lomba dan organisasi kemahasiswaan.

Terdapat 12 tuntutan yang dilayangkan oleh mahasiswa FMIPA :
1. Transparansi anggaran FMIPA termasuk anggaran fasilitas fakultas dan kemahasiswaan.
2. Memperbanyak LCD dan pembagian ruang kelas untuk menunjang proses belajar yang baik, nyaman, dan kondusif.
3. Merenovasi sekret Organisasi Mahasiswa (Ormawa) sesuai janji yang diberikan.
4. Memperbaiki parkiran mahasiswa agar sama rata dengan parkiran dosen dan pegawai.
5. Meningkatkan kebersihan fakultas (ruang kelas, toilet, koridor dan laboratorium).
6. Meningkatkan kualitas pelayanan laboratorium dan fakultas.
7. Mengoptimalkan website fakultas sebagai sumber informasi utama fakultas.
8. Memperbaiki fasilitas ruang baca dan laboratorium komputer.
9. Kejelasan regulasi dan transparansi business corner.
10. Menaikan anggaran praktikum.
11. Menaikan anggaran pendukung untuk mahasiswa berprestasi.
12. Memberikan sosialisasi dan publikasi mengenai program-program fakultas.

Mahasiswa akan melakukan aksi lanjutan apabila tuntutan dalam Aksi Dengar Pendapat dengan Dekanat tidak digubris.

“Kami akan melakukan aksi lebih besar apabila aspirasi kami tidak di tanggap,” Ujar salah seorang mahasiswa dalam menyampaikan tuntunannya.

(ton)

 

Jokowi Dilantik, Bem Unram Deklarasi Jadi Oposisi

Jokowi Dilantik, Bem Unram Deklarasi Jadi Oposisi

Mataram (BEM UNRAM) – BEM UNRAM mendukung penuh upacara pelantikan Presiden-Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024, Jokowi – Ma’ruf Amin, yang diselenggarakan hari ini, Minggu (20/10) di kompleks gedung MPR RI, Jakarta.

Presma Unram, Amri Akbar, menjelaskan momen sakral ini harus didukung karena akan menentukan langkah awal 5 tahun kedepan Indonesia.

“Mahasiswa mengakui Jokowi – KH Ma’ruf Amin sebagai presiden terpilih berdasarkan konstitusi dan harus didukung penuh. Beliau harus didukung untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh negara. Banyak sekali pekerjaan rumah menunggu untuk diselesaikan,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa mahasiswa tidak ada kaitannya dengan siapa yang akan
menjadi presiden, karena mahasiswa tetap menjadi pihak oposisi pemerintah dan penyambung lidah masyarakat.
“Meskipun menjadi pihak opisisi, kami, mahasiswa tidak ada rencana untuk menggagalkan pelantikan presiden hari ini,” tegasnya.

Dia menambahkan dengan situasi politik hari ini. Banyak partai yang pada awalnya berseberangan dengan partai pemenang mulai mendekat menjadi koalisi pemerintah. Tentu saja hal ini untuk mendapatkan beberapa jatah kekuasaan. Lalu jika sudah tidak ada lagi oposisi dalam sistem demokrasi maka akan ada sesuatu yang cacat dalam demokrasi di Indonesia.

“Karena kita melihat elit publik kita sudah melakukan rekonsiliasi, lalu siapa yang akan menjadi penyuara suara rakyat ? Jangan sampai mahasiswa mundur dari medan juang,” tutupnya.

(ton/din)

Ratusan Mahasiswa Tabur Bunga Sebagai Tanda Matinya DPRD NTB

Ratusan Mahasiswa Tabur Bunga Sebagai Tanda Matinya DPRD NTB

Mataram (BEM UNRAM) – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Mataram (BEM UNRAM) kembali menggelar aski belasungkawa “DPRD NTB Telah Hilang”, Jumat (4/10). Aski ini sebagai bentuk kekecewaan atas sikap yang diambil oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat (DPRD NTB) dalam menanggapi masa aksi gerakan G26S dan G30S-DPR. Masa yang kecewa mendengar jawaban ketua DPRD NTB, Hj. Baiq Isvie, SH., MH., yang tidak bisa menyatakan sikap secara tegas karena harus di rapatkan bersama Partai Politik. Aksi berjalan dengan damai dengan pengawalan dari aparat kepolisian dan TNI.

Masa aski berjumlah 200 orang memulai aksinya dengan titik kumpul di Islamic Center (IC) pukul 16.00. masa aksi kemudian mulai bergerak menuju simpang Bank Indonesia (BI) dan memulai orasi dari Koordinator Lapangan (Korlap) Ahmad S. N,. Dia membuka orasi dengan mengucapkan belasungkawa pada DPRD NTB yang telah hilang dan sudah tidak lagi berpihak pada rakyat tapi mementingkan kepentingan partai.

“kita melakukan aksi kali ini sebagai bentuk kekecewaan dan belasungkawa kita pada DPRD NTB yang telah hilang karena lebih mementingkan kepentingan partai daripada kepentingan rakyat,” Ujar Ahmad S. N, yang akrab disapa Ari.

Pukul 17.15 wita masa mulai bergerak ke DPRD NTB dengan pengawalan ketat kepolisian. Masa yang terus bertambah membuat pihak kepolisian melakukan rekayasa lalu lintas agar tidak mengganggu pengguna jalan lain dan masa aksi. Sepanjang jalan masa aksi terus melakukan orasi dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan mahasiswa untuk menjaga semangat.

Masa aksi kembali mendapatkan pengawalan lebih ketat setibanya di depan Gedung DPRD NTB dengan pengawalan dari pihak kepolisian dan pihak TNI. Telah dipasang kembali kawat berduri dan disediakan satu mobil pengeras suara serta mobil watercanon untuk berjaga. Puluhan aparat kepolisian juga disiagakan menghadapi masa aksi.

Muhammad Amri Akbar selaku Koordinator Umum (Kordum) dalam aksi belasungkawa tersebut mulai mengungkapkan kekecewaan pada DPRD NTB yang tidak pro rakyat. Amri menyinggung sikap Ketua DPRD NTB yang harus berkonsultasi pada partai politik terlebih dahulu baru bisa mengambil sikap. Hal tersebut tentu bertentangan dengan definisi dari wakil rakyat. Yang terjadi malah wakil partai politik dan tidak mau mewakili suara rakyat.

“saya sangat kecewa dengan sikap DPRD NTB yang tidak mau mengakomodasi suara rakyat, padahal kami datang dengan ribuan masa yang dengan sopan meminta agar aspirasi dari rakyat ini terus diperjuangkan oleh wakil rakyat khususnya DPRD NTB,” Ujar Amri.

“Kami mengutuk keras sikap DPRD NTB yang mengambil keputusan berdasarkan kepentingan rakyat,” Pungkasnya.

 

Berikut 6 Pernyataan Sikap Aksi Belasungkawa DPRD NTB TELAH HILANG :
1. Mengutuk Keras Sikap DPRD Nusa Tenggara Barat yang engambil keputusan tidak atas dasar kepentingan dan kedaulatan rakyat melainkan kepentingan partai politik dan kelompok terhadap tuntutan aksi G26S dan G30S-DPR.
2. Menegaskan kepada mahasiswa dan rakyat untuk tetap menuntaskan 11 tuntutan rakyat.
3. Bebaskan akktivis pejuang demokrasi yang masih ditahan pihak kepolisian dan mengecam tindakan represif aparat keamanan.
4. Usut tuntas kasus tragedi pembunuhan aktivis di Kendari, Makasar, dan Jakarta.
5. Menuntut pihak kepolisian dan pemerintah agar memberikan bantuan moril dan materil terhadap korban demokrasi.
6. Menghimbau seluruh mahasiswa dan rakyat untuk terus berada pada medan juang sampai permasalahan negara tuntas.
(ton)

Gerakan Udayana Berduka

Gerakan Udayana Berduka

Assalamualaikum Wr. Wb

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!

Setelah serangkaian aksi yang telah dilakukan bersama pada tanggal 26 dan 30 September 2019, tidak ada respon yang meyakinkan dari DPRD Provinsi NTB terkait dengan tuntutan Mahasiswa atas penolakan UU KPK, RUU Pertanahan dst serta isu-isu yang menyengsarakan rakyat.
Oleh karena itu, mari kita berkumpul kembali, bersatu dalam satu barisan perjuangan dalam Aksi Belasungkawa “DPRD NTB Telah Hilang” untuk menyuarakan kembali keadilan dan hak-hak rakyat.

Kepada seluruh mahasiswa dan rakyat NTB hadirkan jiwa dan raga kalian dalam GERAKAN UDAYANA BERDUKA “DPRD NTB Telah Hilang yang akan dilaksanakan pada:

📅 Hari/Tanggal: Jumat, 4 Oktober 2019
🕗 Waktu: 16.00 WITA – Selesai
🏢 Tempat: Kantor DPRD NTB (Udayana)
📍 Titik Kumpul: Islamic Center NTB Pukul 15.00 Wita
👔 Dresscode: Almamater/PDH Kebanggaan

Aksi ini akan diisi dengan:
📝 Pembacaan Puisi
🌹 Bagi-bagi bunga
🎭 Tearterikal
🗣Orasi
 🙌Doa bersama

Harap Membawa Bunga atau kertas kartoon sebagai penyemarak aksi damai kita kali ini

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: LAWAN” (Wiji Thukul)

 

#DPRDTelahHilang
#NyalakanTandaBahaya

 

Mengetahui,
M. Amri Akbar
(Ketua BEM UNRAM 2019)
___________________________

Atas Nama Rakyat [PERNYATAAN SIKAP BEM UNIVERSITAS MATARAM] “Atas Perjuangan Mahasiswa dan Sikap DPRD NTB”

Atas Nama Rakyat [PERNYATAAN SIKAP BEM UNIVERSITAS MATARAM] “Atas Perjuangan Mahasiswa dan Sikap DPRD NTB”

Perjuangan aktivis mahasiswa dan rakyat bergelora di seluruh wilayah indonesia.

UU KPK dan RKUHP yang merupakan isu sentral se-Indonesia ditolak habus-habisan oleh para rakyat terutama aktivis mahasiswa.

Nusa Tenggara Barat melalui gerakan 26 September 2019 (G26S) melakukan aksi serentak dengan membawa tagline aksi “9 Tuntutan Rakyat” bergerak dari Universitas Mataram menuju kantor DPRD NTB. Massa aksi yang berjumlah 10.000 orang dari kalangan mahasiswa, pemuda dan rakyat menuntut DPRD NTB menyatakan sikap untuk menolak RUU Kontroversial tersebut. Aksi berlangsung damai, sampai Kepolisian NTB menembakkan gas air mata ke massa aksi hingga keadaan semakin tidak kondusif, sikap DPRD NTB yang tidak ingin menyatakan sikap menolak atas tuntutan tersebut harus dibayar mahal kepada Mahasiswa.

Selanjutnya Mahasiswa dan Rakyat kembali turun dalam Aksi Gerakan 30 September DPRD (G/30S/DPR) atas nama aliansi “Rakyat NTB Menggugat” kali ini memfollow up tuntutan yang kemarin dengan tagline “11 Tuntutan Rakyat”.

Aksi berlangsung alot, sampai jam 16.00 DPRD NTB tidak menemui massa aksi dan tidak mau menyatakan sikap, sampai salah seorang anggota DPRD menyampaikan hasil yang sama dengan tuntutan G26S yang ditolak mentah oleh massa aksi. Sampai dengan waktu 18.00 DPRD NTB tak kunjung menyatakan sikap, massa aksi bertahan di lokasi sampai sekitar jam 19.00 sampai akhirnya dibubarkan paksa oleh Kepolisian NTB sekitar jam tersebut.

Atas respon DPRD NTB terhadap jawaban tuntutan mahasiswa yang ditanggapi dengan kepentingan kelompok bukan atas Kedaulatan Rakyat.
Kami atas nama BEM Universitas Mataram, dengan Nama Rakyat menyatakan sikap :

1. Mengutuk Keras Sikap DPRD Nusa Tenggara Barat yang mengambil keputusan tidak atas kepentingan dan kedaulatan rakyat melainkan kepentingan partai politik dan kelompok terhadap tuntutan aksi G26S & G30S-DPR.
2. Memghimbau kepada seluruh mahasiswa dan aktivis juang G/30S/DPR untuk tetap menjaga kondusifitas keamanan dan ketertiban dan tidak mudah percaya dengan isu-isu yang beredar.
3. Menghimbau seluruh mahasiswa dan rakyat untuk terus berada pada medan juang, sampai permasalah-permasalahan negara tuntas.

4. mengecam pihak kepolisian yang menangkap dan memburu mahasiswa dan aktivis di NTB.

Sampai permasalah rakyat tuntas, maka selama itu para pejuang hak rakyat akan terus berkobar.
Panjang Umur Perjuangan !

Ttd. Ahmad S N
Mentri Sosial Politik BEM UNRAM 2019
Narahubung : 087865290150

Mengetahui,
M.Amri Akbar
Presiden Mahasiswa Universitas Mataram

Aliansi Rakyat NTB Menggugat Kembali Menggelar Aksi

Aliansi Rakyat NTB Menggugat Kembali Menggelar Aksi

Mataram (BEM UNRAM) – Aliansi Rakyat NTB Menggugat kembali melakukan aksi lanjutan di depan Gedung Dewan Perwakilan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (DPRD Prov. NTB), Senin (30/9). Aksi diikuti oleh BEM Se-NTB, OKP, Paguyuban, dan kalangan masyarakat. Masa aksi berjumlah sekitar 5.000 masa memenuhi Jalan udayana. Masa aksi melakukan longmarch dari Unram menuju Gedung DPRD Prov. NTB. Aliansi kembali dengan membawa tuntutan yang sama yaitu meminta komitemen dari DPRD Prov. NTB untuk melanjutkan aspirasi rakyat.

Aliansi Rakyat NTB Menggugat memuali aksi dengan melakukan longmarch dari Unram. Masa mulai berkumpul dari pukul 09.00 wita dan mulai bergerak jam 10.00 wita. Masa aksi berjumlah 5.000 orang terdiri dari berbagai elemen seperti BEM Se-NTB, OKP, Paguyuban, dan kalangan masyarakat. sebagai identitas aspirasi yang dibawa adalah murni dari rakyat NTB maka aliansi ini hanya menggunakan bendera merah putih.

Pukul 11.00 masa aksi tiba di Gedung DPRD Prov. NTB dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian dan TNI. Masa aksi memulai orasi ilmiah dimulai dari korlap hingga perwakilan dari masyarakat. Tidak masa aksi tiba dan melakukan orasi, Ketua DPRD NTB, Hj. Baiq Isvie, SH., MH., kelluar menemui masa aksi. Isvie berjanji akan membawa semua aspirasi dari mahasiswa ke Jakarta hari ini.

“Saya akan membawa seluruh aspirasi ini ke Jakarta hari ini,” Ujar Baiq Isvie.

Masa yang mendengar statement dari Baiq Isvie langsung merasa kecewa karena bukan hanya itu yang menjadi tuntutan masa aksi. Masa yang menginginkan DPRD NTB berkomitmen untuk menyelesaikan seluruh tuntutan yang dibawa oleh masa aksi.

Muhammad Amri Akbar selaku koordinator umum (Kordum) Aliansi Rakyat NTB Menggugat membacakan 11 tuntutan rakyat untuk ditandatangani oleh Baiq Isvie selaku Ketua DPRD NTB. Pernyataan Sikap 11 Tuntutan Rakyat
1. Menolak hasil revisi UU KPK yang melemahkan KPK dan menerbitkan PERPU KPK.
2. Evaluasi RKUHP kontroversial.
3. Cabut izin korporasi yang melakukan pembakaran hutan.
4. Mengecam segala bentuk rasisme dan militerisme terhadap papua.
5. Tolak revisi RUU pertanahan yang tidak pro rakyat.
6. Tolak revisi UU pemasyarakatan yang tidak pro rakyat.
7. Tolak dan revisi RUU No. 13 Tahun 2013 tentang ketenagakerjaan yang tidak pro terhadap buruh.
8. Drop kebijakan kesehatan yang berbau Asuransi (BPJS)
9. Mengecam dan tindak tegas oknum kriminalisasi aktivis dan rakyat. Serta menuntut kepolisian menuntaskan pelaku penembakan mahasiswa di Kendari.
10. Mengutuk keras MENRISTEKDIKTI dan Rektor yang membatasi ruang demokrasi mahasiswa
11. Mempertegas sikap DPRD NTB atas segala tuntutan berdasarkan kedaulatan rakyat bukan atas tendensi parpol.

Namun tak lama menemui masa aksi, Baiq Isvie langsung meninggalkan masa aksi yang merasa kecewa mendengar jawaban tersebut. Masa aksi yang kecewa terus melakukan orasi sampai tuntutan mereka dipenuhi oleh Ketua DPRD NTB. Masa aksi menyampaikan semua aspirasinya dengan tertib. Sesekali masa aksi juga mengamankan provokator yang sempat melemparkan batu ke arah aparat kepolisian. Namun aksi provokator tersebut mampu diredam sehingga tidak terjadi kericuhan. Tidak ada kericuhan yang berarti terjadi pada aksi kali ini yang menimbulkan banyak korban seperti aksi pada, Kamis (26/9).

Setelah lama melakukan orasi dan negoisasi akhirnya perwakilan dari DPRD NTB keluar menemui masa sekitar pukul 16.45 wita. perwakilan dari DPRD NTB keluar menemui masa aksi dengan membawa jawaban tertulis dari Ketua DPRD NTB. Jawaban yang diterima masa aksi sama seperti jawaban yang diterimanya saat aski sebelumnya. Dengan jawaban tersebut masa aksi yang kecewa meneriaki perwakilan DPRD NTB tersebut. Masa aksi terus bertahan di lokasi dan memaksa masuk ke dalam Gedung DPRD NTB.

Kericuhan mulai tak terbendung saat alat pengeras suara di mobil komando masa aksi tidak berfungsi. Masa aksi yang kehilangan komando dari kordum dan korlap yang kemudian masa mulai memaksa masuk ke DPRD NTB. Pihak kepolisian langsung mengambil tindakan tegas dengan menembakan air dari mobil watercanon. Masa kembali mereda setelah amri menenangkan masa aksi menggunakan sound sistem dari pihak kepolisian.

Hingga pukul 18.00 wita masa aksi masih bertahan dilokasi aksi walau sudah dihimbau oleh kepolisian untuk meninggalkan lokasi karena sudah melewati batas waktu yang sudah ditentukan. Masa aksi yang bersikeras tetap tinggal di lokasi dengan sisa masa yang ada.

Sekitar pukul 19.30 wita ratusan aparat mulai memukul mundur masa aksi. Kericuhan tidak terelakan karena masa aksi menolak untuk meninggalkan lokasi. Masa aksi mulai melemparkan batu kearah aparat kepolisian. Lemparan batu kemudian dibalas dengan peluru karet dan water canon. Banyak masa yang melarikan diri ke Islamic Center dan rumah warga.

Sekitar pukul 21.00 wita situasi sudah bisa diatasi oleh aparat kepolisian. Sekitar 26 terduga provokator diamankan oleh pihak kepolisian. Sampai saat ini belum diketahui jumlah korban yang jatuh dari pihak masa aksi dan kepolisian.
(ton)

0
0