Benarkah Uang BEM Unram Masuk Ke Kantong Pribadi, Begini Tanggapan Amri Akbar

Benarkah Uang BEM Unram Masuk Ke Kantong Pribadi, Begini Tanggapan Amri Akbar

Oleh : Muhammad Amri Akbar (Presiden Mahasiswa UNRAM)

 

Saya ingin memberi tanggapan sebuah tulisan yang beredar di berita online yang menurut kabar yang saya dengar salah seorang dari pengurus DPM Unram yang memiliki karya tulis tersebut.

Saya mengapresiasi usaha intelektual yang coba di bangun dan di budayakan serta budayakan sikap kritis untuk memaksimalkan tupoksi sebagai lembaga legislative meskipun cukup terlambat untuk  menjalankan tupoksi DPM itu sendiri sebagai lembaga check and balance system kepada bem unram selaku lembaga eksekutif tertinggi dalam menjalankan roda organisasi  agar terciptanya kehidupan organisasi kampus yang ideal serta mampu menjadi miniatur negara yang dapat melahirkan formulasi baru sebagai sumbangsih pemikiran untuk bangsa dan negera. Namun ada beberapa hal yang ingin saya luruskan agar tulisan yang saya anasir hanya bermuatan 98% nya adalah opini dan asumsi semata tanpa ada basis argumentasi atau analisa kritis yang jelas – rasional dan logis, data, studi kasus dan teknis anggaran tersebut bisa mengalir sampai ke kantong pribadi atau di hambur-hamburkan tidak berakhir menjadi fitnah belaka diakhir kepengurusan kabinet irama juang 2019 ini.

Pertama, suatu organisasi sudah jelas dan wajib memiliki kelengkapan struktural, konsep pengelolaan dan proses birokrasi di dalamnya. BEM Unram kabinet Irama juang 2019 dalam proses pengelolaan organisasi memiliki kelengkapan struktural yang sudah di tetapkan sejak dilantiknya dan tak pernah mengalami perubahan. Kelengkapan struktural tersebut di design dengan tugas pokok dan fungsi guna mempermudah jalan untuk mencapai visi dan misi kabinet.

Saya tidak akan berkalam terlalu jauh, kita akan fokus kepada sistem pengelolaan keuangan organisasi. BEM Unram membagi post2 anggaran yang bersumber dari Rektorat Unram berdasarkan program kerja kementerian yang sudah di rasionalisasikan dan disahkan bersama DPM Unram dalam sidang Rasionalisasi yang di adakan oleh DPM Unram sendiri. Saya masih ingat pada saat sidang rasionalisasi proker bem unram, saudara yang menulis tulisan tersebut tidak ada dalam persidangan karena belum bergabung dan menjadi pengurus DPM Unram, karena DPM Unram juga belum memiliki sistem yang jelas dalam perekrutan pengurus yang pada esensinya mereka adalah lembaga perwakilan namun orang-orang yang ada di dalam DPM Unram yang mengaku sebagai perwakilan mahasiswa tapi tidak mewakili siapa pun karena memang pengurus DPM Unram belum dipilih langsung oleh mahasiswa. Sehingga di pertengahan kepengurasan masuk orang-orang yang tidak tahu duduk jelasnya suatu persoalan. Di dalam kementerian itu sendiri masing-masing telah dilengakapi dengan seorang bendahara yang tugasnya melakukan pendataam administrasi terhadap penggunaan keuangan kementerian dan memberikan laporan kepada Bendahara Umum  setiap 2X sebulan atau dalam agenda Rapat Badan Pengurus Harian Bem Unram.

Pencairan anggaran pun semua berbasis program kerja. Dalam mengeksekusi program kerja dibentuk panitia pelaksana yang dimana dalam kepanitian juga di lengkapi dengan bendahara panitia. Uang yang diterima dari rektorat atas nama kepanitian untuk melaksanakan program kerja sepenuhnya di pegang dan kelola oleh bendahara panitia dan apabila kegiatan telah selesai maka laporan pertanggung jawaban penggunaan anggaran harus segera diserahkan kepada pihak keuangan rektorat. Bendahara kementerian hanya memonitoring dan menerima laporan. Artinya, bahwa angagran dari rektorat tidak ada yang sampai kepada bendahara kementerian atau bendahara umum melainkan langsung digunakan untuk kegiatan. Apalagi akan sampai ke kantong Presiden Mahasiswa, Presiden Mahasiswa hanya mengevaluasi progres dan menerima laporan dari BPH dalam rapat evaluasi BPH BEM Unram. Kemudian sistem pencairan anggaran di rektorat adalah sistem bantuan dan kemampuan birokrasi bukan atas Rencana Anggarana Belanja Kepanitian. Misalnya kegiatan beasiswa entreprenuer besar RAB yang diajukan adalah 10 juta namun yang bisa di cairkan hanya 3 juta karena birokrasi bisa membantu (bahasanya birokrasi) hanya sebesar itu. Saya yakin teman-teman yang penggiat organisasi pasti paham dan hafal soal ini. Jadi jangankan masuk ke kantong, anggaran kegiatan saja tidak cukup dari birokrasi dan kepanitian harus banting tulang untuk mencukupi anggaran kegiatan.

Kemudian terkait angka yang disebut dalam tulisannya bahwa bem sudah menggunakan anggaran dari rektorat sebesar 76 juta. Penulis sebelumnya tidak pernah mencoba membangun budaya check and balance dengan meminta klarifikasi kepada bendahara umum maupun ke saya pribadi. Bahwa hal tersebut adalah kekeliruan dari birokrasi. Anggaran yang baru di gunakan oleh bem unram selama hampir 1 tahun kepengurusan baru 42-an juta dari total anggaran 50 juta. Bisa di cek dari LPJ kepanitian, total rekapan bendahara kepanitian, bendahara kementerian dan laporan bendahara umum BEM Unram. Uang 34-an juta berikutnya adalah total uang perjalan dinas bem unram setiap kali mengikuti kegiatan2 nasional untuk mewakili Universitas Mataram. Dan anggaran tersebut tidak di hitung dari 50 juta yang telah di alokasi untuk kegiatan bem unram karena dari kepengurusan sebelum-sebelumnya pun seperti itu bahkan organisasi yang lainpun sama. Kalau perjalanan dinas adalah uang organisasi lantas bagaimana mereka yang menjadi perwakilan kampus yang tidak mewakili organisasi atau bahkan tidak mengikuti organisasi.

Berikutnya penulis sering menyebutkan bahwa kepengurusan bem banyak dirasuki permasalahan. Saya pribadi iyakan ! BEM unram banyak dirasuki permasalahan. Permasalahan yang BEM sedang hadapi sekarang adalah mengadvokasikan teman-teman mahasiswa eks- reguler sore yang tidak sempat melakukan verifikasi UKT yang jumlahnya ribuan orang. Belum lagi masalah bangsa dan daerah yang mahasiswa harus ambil andil dan peran didalamnya. Sedari awal kepengurusan BEM Unram sudah banyak dirasuki masalah hal tersebut bisa dilihat dengan adanya 2 kali aksi besar dalam kampus, temuan kasus korupsi beasiswa bidik misi, sampai dengan 2 kali aksi besar dalam sejarah gerakan mahasiswa di ntb, bem unram kabinet irama juang terlibat aktif, berkontribusi serta mengambil peran didalamnya.

Kemudian penulis sering menyampaikam bahwa tidak ada itikad baik dan komunikasi yang dibangun oleh BEM  Unram kepada DPM Unram. Hanya saja, sayangnya saudara yang tak pernah hadir dalam forum – forum ilmiah antara BEM dan DPM . Pernah hadir tapi hanya sebagai penambah kuantitas massa forum.

Saya berterimakasih atas kritik yang disampaikan, karena saudara penulis menyebut kongkrit satu kepengurusan BEM Unram maka tugas dan kewajibam saya adalah menjawab. Agar apa yang disampaikan tidak menjadi sekat kepercayaan antara BEM Unram dengan mahasiswa yang sudah bangun sedari awal kepengurusan, karena masih banyak tugas – tugas besar di akhir kepengurusan ini yang kita semua harus berlari lebih cepat dari biasanya untuk menyelesaikannya. BEM Unram tidak akan mampu jika tidak adanya dukungan dan kepercayaan dari mahasiswa Universitas Mataram.

 

Hidup Mahasiswa !!

Hidup Rakyat Indonesia !!

Stop Rasisme Melalui Perayaan Sumpah Pemuda

Stop Rasisme Melalui Perayaan Sumpah Pemuda

Oleh : ZIKRIATUL AINI(magang sospol BEM UNRAM 2019)

28 Oktober 1928 merupakan salah satu hari bersejarah bagi bangsa Indonesia,hari dimana kala itu menjadi awal kebangkitan semangat perjuangan dari para pemuda-pemuda bangsa. Dimana para pemuda dari berbagai suku, daerah datang dan berkumpul di Jakarta menyatukan pikiran dan semangat. Mereka berbaur menjadi satu-kesatuan yang utuh untuk kemerdekaan dan kebebasan Indonesia dari belenggu penjajahan tanpa memandang dari suku,agama,ras dan budaya mana mereka berasal. Sehingga lahirlah sumpah pemuda, sumpah yang dijadikan sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme, sumpah yang menjadi kebanggaan, sumpah yang menjadi identitas bangsa, sumpah yang menjadi saksi perjuangan para pemuda bangsa Indonesia.

74 tahun sudah bangsa Indonesia telah merdeka dan 91 tahun sudah semangat yang bergelora dari para pemuda bukti dari perjuangan mereka untuk menyatukan bangsa ini. Namun, semangat perjuangan para pemuda terdahulu yang diwariskan kepada kita pemuda masa kini atau sering disebut kaum milenial, apakah masih terlihat ada ataukah sudah mati?. Kemerdekaan yang dimiliki bangsa ini sejatinya apakah bisa kita sebut bener-bener merdeka, karna melihat keadaan negeri yang carut-marut disana-sini. Apakah kemerdekaan yang ada di dalam mindset yang kita miliki hanya sekedar terbatas pada menang melawan para penjajah seperti yang tertulis di dalam buku sejarah. Ataukah negeri yang kita pijaki ini merupakan hasil pengorbanan pertumpahan darah dari para pahlawan atau para pendahulu kita. Lalu mari pertanyakan itu kepada diri kita masing-masing terutama kita para mahasiswa, kontribusi apa yang sudah kita berikan kepada bangsa ini?

 

Kita harus melek kawan melihat keadaan bangsa kita yang tidak sehat ini. Dimana para saudara-saudara kita dari papua di deskriminasi dan diperlakukan rasis. Mereka para mahasiswa dari papua yang berkuliah di luar daerah seperti di Surabaya,malang dan daerah lainnya, diduga mereka telah mendapatkan tindakan seperti penyerbuan,kekerasan,pelemparan gas airmata, pelontoran kata-kata bernada rasis seperti anjing dan monyet, dan ujaran kebencian, termasuk kata-kata intimidatif lainnya. Termasuk juga ormas yang mendatangi asrama dengan melempari mahasiswa dengan batu dan memaki mahasiswa papua dengan ujaran rasis. Sementara itu polisi dan aparat TNI cuma diam.

Dua hari usai kejadian, tindakan rasisme itu di respon luarbiasa di Papua. Tepat sehari setelah negara ini merayakan kemerdekaan ke-74, Papua bergolak. Dari Jayapura, Manokwari, Nabire, Sorong, lalu menyusun Fakfak dan Mimika. Ujaran rasis di Surabaya memicu kemarahan, mereka melakukan aksi besar-besaran, membakar, merusak.
Melihat tindakan yang didapatkan oleh saudara-saudara kita yang di Papua sana,apakah kita para pemuda masih tetap bungkam dan duduk diam dengan nyaman di bangku kuliah. Lewat ajang peringatan hari sumpah pemuda ini mari kuatkan dan tanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air di dalam diri kita masing-masing,stop rasisme,rangkul kembali saudara-saudara kita yang dari papua jangan biarkan mereka melepaskan diri dari NKRI ini,berikan perlindungan,keamanan,dan kenyamanan terhadap mereka.

Sesuai dengan semboyan yang dimiliki bangsa Indonesia yaitu Bhineka tunggal ika yang bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu jua,seharusnya menjadikan perbedaan dan keberagaman yang ada sudah sepatutnya kita syukuri,karna belum tentu bangsa lain memilikinya dan disinilah peran pemuda untuk tetap dapat mempersatukan bangsa ini di tengah kemajemukan yang ada,karna dengan bersatu kita menjadi kuat dan dengan bersatu kita dapat mencapai kemerdekaan.
Stop rasisme di Bumi Pertiwi,warna kulit boleh berbeda,namun bukan berarti perbedaan harus menimbulkan luka. Mari kita bangun dari tidur nyenyak kita dalam mengejar akademik karna nilai saja tak cukup untuk menyelesaikan berbagai polemic di negeri ini. Perayaan sumpah pemuda ini bukanlah perayaan tanpa arti tetapi ini dari rakyat yang masih memiliki hati,dan ingat sesungguhnya rakyat tidak membutuhkan IPK tinggi tetapi mereka butuh gerakan yang nyata dari kalian,dari kita , dari para pemuda yang mengaku cinta Negerinya.

DILEMA HARUS MEMILIH YANG MANA

DILEMA HARUS MEMILIH YANG MANA

Oleh : M Fauzin Al Habib Koordinator kajian Startegis BEM UNRAM

Reformasi mengingatkan kita bahwa gerakan mahasiswa di masa lalu menjadi sebuah romantika kemenangan besar gerakan mahasiswa dan selalu coba ditransformasikan pada setiap pengkaderan lembaga kemahasiswaan hari ini. Mahasiswa dianggap kelas yang paling bertanggungjawab atas penegakan moral dalam masyarakat, setidaknya itu dibuktikan melalui keruntuhan era orde baru dimana mahasiswa menjadi aktor utama dalam melengserkan Soeharto.

Keruntuhan orde baru ternyata tidak ditanggapi secara progresif oleh mahasiswa di generasi selanjutnya. Ada keresahan yang kemudian memunculkan asumsi  dan pertanyaan, ke mana arah gerakan mahasiswa akan berlabuh kini? Beberapa pertanyaan seperti, apa penyebab kemunduran dan kepekaan mahasiswa terhadap realitas sosial hari ini; apakah kepentingan antar kelompok mahasiswa yang saling bersinggungan? Atau meraka saling berbenturan mencari pangung di parlamen jalanan? Intelektualitas mahasiswa yang bergeser ke arah budaya konsumtif?  Ataukah ada relasi kekuasan birokrasi kepada kelompok mahasiswa tertentu yang menyebabkan sekat sesama mahasiswa?

Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan itu dan dengan melihat stagnasi gerakan mahasiswa hari ini, narasi ini secara sederhana mencoba melihat realitas kekinian mahasiswa ‘zaman now’ yang baru saja menginjakkan kakinya di kampus. saya melihat ada pergeseran paradigma dari mahasiswa pergerakan ala Soe Hok Gie bergeser menjadi mahasiswa ala kompetitor perlombaan, dimana bercita-cita menang kompetisisi debat, menjadi penulis naskah ilmiah terbaik, lalu wajahnya dipasang di baliho depan kampus. Apakah ini sebenarnya bentuk pergerakan mahasiswa kekinian? Ataukah justru upaya meredam terciptanya mahasiswa kritis yang mampu menggoyahkan pemerintahan?

Ada beberapa pendapat sederhana yang saya temukan mengenai hal apa yang menjadi penyebab kemunduran gerakan mahasiswa. saya berangkat dari sejarah kelam efek normalisasi kehidupan kampus di masa lalu, yang berimplikasi terhadap realitas gerakan mahasiswa sekarang.

Di masa lalu, anda tentu tidak lupa dengan kebijakan orde baru mengenai normalisasi kehidupan kampus yang dilakukan secara sentralistik oleh negara lewat program NKK/BKK. Kebijakan tersebut kemudian yang menjadi dasar mematikan organisasi internal kampus, semisal senat mahasiswa yang pada waktu itu pusat gerakan mahasiswa, kemudian diiringi dengan pendirian Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mengalihkan energi mahasiswa kearah minat dan bakat persis seperti yang terjadi hari ini.

Tentu kita dapat curiga hal tersebut yang memutus kultur gerakan mahasiswa sehingga terjadi kemerosotan arah gerakan mahasiswa di masa lalu dan era sekarang. UKM penyebab pudarnya hasrat mahasiswa untuk peka terhadap realitas di luar kampus yang sarat dengan persoalan sosial, politik, dan ekonomi bangsa. konsentrasi mahasiswa teralihkan menyebabkan kemunduran gerakan mahasiswa. Efek hadirnya UKM menyebabkan mahasiswa secara struktural dan kultural sukarela dan iklas menerima kontrol birokrasi kampus melalui kebijakan yang hampir selalu dalam sejarahnya merupakan alat mematikan daya kritis mahasiswa, ibarat bukankah mahasiswa itu sifatnya selalu begerak? Emmm..“musuh dalam selimut” bagi gerakan mahasiswa.

Pendapat kedua, saya  mungkin lebih spekulatif dari pada pendapat pertama, bahwa penyebab lainya adalah bergesernya kultur intelektualitas mahasiswa ke arah budaya konsumtif sebagai kaum hedon. Konsumsi bukan hanya soal membeli barang dan memakainya, namun kebudayaan konsumtif menentukan cara kita berinteraksi dan hidup di lingkungan sosial kita.

Budaya konsumtif yang dibangun melalui budaya populer yang kemudian oleh industri kapitalisme menciptakan produk-produk yang memaksa mahasiswa berorientasi untuk menghidupkan citranya menjadi penyusup dalam mematikan nalar kritis manusia. Setidaknya itu yang dikatakan Herbert Marcuse dalam One Dimensional Man (1964) bahwa citra menjelma menjadi mantra gaib yang menyusup ke segala sisi kehidupan individu dan masyarakat, bahkan memainkan peranan besar dalam dunia politik dan kekuasaan.

Meminjam istilah Pierre Bourdieu mengenai Habitus yang berubah dan mengkondisikan perubahan lingkungan kultural serta menciptakan keadaan dimana produksi wacana kritis melalui budaya intelektual terkikis habis disebabkan oleh perubahan gaya hidup mahasiswa itu sendiri, yang orientasinya adalah citra.

Dalam pandangan Jean Baudrillard, ia melukiskan hal tersebut sebagai ketidak mampuan kesadaran yang membedakan kenyataan dan fantasi yang merupakan kondisi kaburnya tanda dan realitas gambaran analoginya seperti larutnya Televisi (TV) Medsos ke dalam kehidupan dan larutnya kehidupan ke dalam TV dan medsos. Kondisi itu menggambarkan sesuatu yang nyata, menjadi utama, lalu berkuasa.

Kita kemudian menjadi babu percobaan, yang menciptakan lingkaran yang tidak berdasar. Sederhananya, kemunduran gerakan mahasiswa disebabkan oleh pengaruh tren hidup mahasiswa dan aktivis-aktivisnya yang semakin tergila oleh budaya popular yang kita tahu dimotori oleh teknologi dan informasi, fantasi media, dan dunia hiburan yang menyembunyikan kesenangan.

Pendapat terakhir saya yaitu, adanya relasi kekuasaan birokrasi dengan institusi politik terhadap lembaga kemahasiswaan yang menyebabkan lemahnya independensi gerakan mahasiswa. Kondisi ini menghadirkan relasi kekuasaan baru yang  merongrong tubuh mahasiswa serta menjerat gerakan mahasiswa dalam pusaran kepentingan politik yang memperalat gerakan mahasiswa itu sendiri. Itu dibuktikan dengan munculnya organisasi “Cabang” partai politik dan terlibatnya birokrasi kampus dalam kontestasi politik nasional maupun lokal. Tentu dewasa ini kita sering menjumpai politisi-politisi yang sedang berkontestasi politik di daerah “bergandengan tangan” dengan birokrasi kampus di hadapan mahasiswa-mahasiswanya. Sayangnya, mahasiswa baru menjadi “korban” utama pencitraan tersebut.

Dengan sedetet pendapat dia atas, akhirnya gerakan mahasiswa yang idealnya independen mengalami stagnasi dan kemunduran orientasi gerakan sosial yang memunculkan ambiguitas dan kejumudan.

Amirul Mukminin Imam Ali as pernah berkata, kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Sebuah kalimat profetik seorang pemimpin Islam di masa lampau. Kalimat tersebut menyiratkan pentingya mengorganisir kebaikan dalam memukul mundur sebuah kedzaliman.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, bahwa di tengah produksi kebudayaan dan seringya terjadi pergeseran dan pertentangan antar sesama organ mahasiswa dalam kampus, perlu kemudian solusi alternatif dalam membangun gerakan mahasiswa yang kian sepi.

Seharusnya kita banyak belajar dari revolusi Republik Islam Iran bagaimana kelompok Islam dan kelompok kiri sosialis bersatu menumbangkan rezim Syah Pahlevi. Bagaimana kemudian, pemuda menjadi motor revolusi yang fenomenal tersebut. Namun pemuda atau mahasiswa mesti maju sebagai generasi yang paling di depan memegang tanggungjawab intelektual. Intelektualitas mahasiswa di perguruan tinggi mesti menjadi menara api. Menara cahaya bagi masyarakat luas.

Mahasiswa yang menjadi aktor intelektual dalam institusi pendidikan tinggi mempunyai tanggungjawab membebaskan rakyat dari belenggu ketidakadilan, kebodohan dan kemiskinan. Keadaan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan ini diharapkan sebagai pemicu bersatunya gerakan mahasiswa memupus sepinya jalan ini.
Diam bukan lagi emas, serta duduk di bangku perkuliahan dan memenangkan semua piala bukan lagi jalan yang benar. Di tengah ketertindasan dan hadirnya diskriminasi sosial, mahasiswa mesti membangun simpul gerakan sebagai solusi konkret melawan dominasi. Organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, serta organisasi minat bakat mesti keluar dari tempat nyaman mereka dan bersatu. Karena dengan begitu, jalan perjuangan ini akan kembali ‘ramai’.

#OPINI 

 

Merah Putih

Merah Putih

Oleh : Yusifar Fathana Sp

Perjuangan dan pengorbanan, Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dan sekarang usia kemerdekan sudah 74 tahun.

Untuk mencapai kemerdekaan yang seutuhnya pemuda dan rakyat Indonesia mengorbankan nyawa dan menumpahkan darah nya Mereka membela kebenaran, keadilan serta hak-hak yang semestinya mereka miliki.

Jika di negeri ini membicarakan tentang kebenaran, keadilan serta hak-hak yang menjadi milik mereka lantas bagaimana dengan penguasa saat ini yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sya rasa sedikit menimpang dan tidak pro terhadap rakyat.

Kata mereka Indonesia merdeka secara utuh sedang kan kebebasan untuk menyuarakan kebenaran dan berpendapat saja di bungkam, di intervensi hingga di intmidasi.

Kata mereka menyampaikan aspirasi dengan berekspresi di depan umum itu menjadi hak-hak setiap orang namun nyatanya masih saja ada semprotan air, Gas Air mata dan timah panas menembus “dada” yang pada akhinya kebebasan berekspresi itu menjadi duka cita.

Pada akhirnya pemuda dan rakyat merasa enggan untuk menyampaikan kebenaran, keadilan karena kebebasan untuk berpendapat saja di kekang hingga di bungkam.

Pada dasarnya itu menjadi hak-hak dalam bernegara untuk itu sang penguasa perlu adanya revolusi berpikir atau pencerdasan.

 

Bunuh Tiran Dalam Diri

Bunuh Tiran Dalam Diri

Oleh : Khaerul Muamalah

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namuj tidak jujur itu sulit diperbaiki”. –Bung Hatta

“Hidup Mahasiswa! Hidup rakyat indonesia” pekik mahasiswa dalam suatu aksi menolak Rancangan Undang-undang (RUU) KPK, RUU KUHP dll.

Mahasiswa berorasi, menggebu-gebu, heroik bak singa podium. Menjabarkan tuntutan demi tuntutan dari hasil kajian yang telah dibuat.

Kebetulan saat aksi, sore harinya pemuda tersebut ada jadwal Ujian Akhir Semester (UAS). Dengan tanpa malu dan ragu ia menyontek saat mengerjakan soal ujian.

Miris bukan? semoga ceita di atas hanya sebuah fiksi. ini tentang integritas. ini tentang konsistensi. ini tentang kesesuaian apa yang dikatakan dengan apa yang diperbuat.

Memang menjadi kewajiban mahasiwa untuk meluruskan apa-apa yang salah demi sebuah idealisme.

Namun, bagaimana clean government dapat terwujud bila kita masih belum bisa membersi
kan penyebab-penyebab tidak terwujudnya clean government dalam negeri ini? salah satunya soal kejujuran.

Ketidak jujuran bibit dari perilaku korupsi. indonesia menempati posisi ke-94, data dari corruption perpections indextahun 2016.

Korupsi menciptakan kerusakan yang sangat luar biasa dimasyarakat. Sampai-sampai PBB mengatakan bahwa kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia.

karena bukan sekedar soal memperbaiki li
ngkungan sekitar, lebih jauh lagi adalah tantang perbaiki diri kita sendiri. Kita generasi muda yang akan mengisi pos-pos penting negeri ini.

mungkin hari ini kita yang mendemo para penjabat karena kasus-kasus korupsinya, bisa jadi dikemudian hari kita lah yang di demo karena ketidak jujuran yang kita pupuk sejak berada dalam kampus. Bunuh yiran yang ada pada diri sebelum membunuh tiran dilingkungan yang luas.

FEB BERSUARA 19/9/19

FEB BERSUARA 19/9/19

OLEH KHAERUDDIN

Pergerakan mahasiswa kadang dipandang sebelah mata oleh para pemangku kekuasaan. Padahal dalam setiap catatan sejarah yang pernah terjadi di bangsa ini, pergerakan mahasiswa memegang peranan penting dalam kemajuan, meruntuhkan kebobrokan penguasa, mereformasi keadaan. Bersatunya semua kelompok mahasiswa menjadikan variable itu terlihat banyak, terlihat kuat dan solid. Gerah akan janji dan kinerja birokrasi yang terbilang sangat lambat, semua kelompok itu bersatu-padu, membuat lingkaran besar, dengan ide dan strategi gemilang. Tidak lain tujuan yang ingin dicapai, agar pembangunan, tranparansi, dan kemajuan tercipta segera.

19/9/2019 Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus Biru (AMPKB) yang terdiri dari persatuan mahasiswa se-Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram menggelar aksi damai di FEB UNRAM. Menagih janji birokrasi yang 1 tahun lalu divalidasi dalam sebuah kegiatan bertajuk “Dialog Kampus Biru”. AMPKB sudah gerah dengan janji birokrasi pada setiap audiensi yang dilakukan oleh perwakilan mahasiswa terkait dengan perjanjian tersebut. Point tuntutan yang diangkat tidak jauh berbeda dari kegiatan tahun lalu itu. Masalah pembangunan, fasilitas, dukungan terhadap kegiatan mahasiswa, isu pungli dan lain sebagainya. Tak kurang dari 200 mahasiswa FEB UNRAM ikut membersamai aksi ini. Antusiasme dan semangat mahasiswa terlihat sangat membara. Masing-masing perwakilan mahasiswa melakukan orasi di depan gedung A FEB UNRAM, tidak terkecuali mahasiswa dari D3. Setelah 1 jam melakukan orasi di depan gedung A, mahasiswa naik menemui seluruh jajaran pihak birokrasi di gedung (C) Teater FEB UNRAM. Gedung dipadati oleh mahasiswa.

Adapun point tuntutan yang berhasil dicapai adalah:

  1. Perbaikan dan penataan tempat parkiran mahasiswa FEB UNRAM baik di D3 maupun S1.
  2. Pengadaan fungsi dari fasilitas kampus ( Kipas, Ac, Gorden, dll).
  3. Perbaikan gedung tidak layak pakai agar segera ditindaklanjuti.
  4. Memberikan dukungan penuh kepada ormawa yang akan mengembangkan berbagai program yang dapat meningkatkan kemampuan akademik maupun non-akademik.
  5. Melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap isu pungli di FEB serta memberikan sanksi dan efek jera sehingga hal-hal semacam itu tidak lagi terurang.

Kelima point tuntutan yang telah ditandatangani tersebut akan terus dilakukan evaluasi oleh mahasiswa selambat-lambatnya 1 bulan mendatang. Selanjutnya mahasiswa se-Universitas Mataram akan menggelar aksi bersama sebagai tindak lanjut dari aksi yang telah dilakukan di masing-masing fakultas. Mahasiswa sudah menunjukan persatuan dan keseriusannya terhadap kemajuan kampus tercinta. Sudah saatnya seluruh elemen dalam kampus ini berbenah, terkhusus pihak birokrasinya.

0
0