Oleh: M. Fauzin Al Habib (Mentri Kajian Strategis BEM UNRAM)

Pemerintah hari ini sedang banyak menjadi topik perbincangan di tengah masyarakat terutama pemerintah pusat atau presiden Joko Widodo. Belum usai polemik masalah kerumunan yang terjadi di NTT beberapa hari yang lalu disambut dengan kontraversi terkait dengan presiden Joko Widodo menandatangani Perpres No. 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang dimana  salah satu poin krusialnya adalah terkait dengan investasi miras.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol dan memabukkan. Minuman keras yang memabukkan ini dapat membuat seseorang kehilangan kesadarannya jika dikonsumsi berlebihan dan fantasi bahagia yang terlalu berlebihan dan ini sangat berdampak buruk untuk kesehatan 

Jika kita melihat kondisi di Indonesia terkait dengan berita miras baik itu media cetak maupun media online atau televisi penyalahgunaan miras rata-rata adalah mereka yang masih anak muda dan jika kita melihat survey riset kesehatan dasar 2018 dalam sepuluh tahun terakhir rata-rata konsumsi alkohol di Indonesia terus mengalami peningkatan.

Fakta yang kita lihat di lapangan bagaimna dengan peredaran miras di tengah-tengah masyarakat yang terus meningkat dan banyaknnya miras oplosan, ilegal, dan palsu yang sering ditindak oleh aparat yang berwajib dan operasi pemusnahan miras sering kita lihat namun intensitas masrakat yang mengkonsumsi miras tidak ada tingkat penurunan yang signifikan namun terus mengalami kenaikan.

Kita ketahui bersama juga penolakan investasi miras ini banyak disampaiakn oleh para tokoh maupun elemen masyarakat karena atas dasar kekhawatiran diatas bagaimana miras itu akan memicu tindak kriminal. Sebagaimana diketahui, umumnya para peminum miras sering melakukan kejahatan di luar alam bawah sadarnya alias secara tidak sadar dan itu dilakukan oleh kaum pemuda anak milenial.

Jika melihat bagaimna sumbangsih atau devisa  yang dihasilkan dari industri minuman keras juga tidak seberapa, tetapi dampak yang ditimbulkan besar. Oleh sebab itu, aturan tersebut dinilai sebagai ancaman bagi generasi milenial generasi yang dominan bangsa yang akan meneruskan peradaban bangsa Indonesia kedepnnya.

Walaupun untuk persyaratannya hanya di lakukan di berbagai derah tertentu tidak menutup kemungkinan dan pasti dampaknya akan menyeluruh di tengah masyarakat. Jika sebelum ada kebijakan ini  penyalahgunaan miras ini sangat signifikan bagaimna dengan setelah ada perizinan dan dilegalkannya investasi miras ini tentu akan makin menambah keruh dan suram suasana dan generasi bangsa ini akan hilang akal sehat dan nuraninya sabagai pewaris peradaban bangsa.

Sebagai penutup jika kita lihat bagaimana kaidah islam sangat jelas dikutip dari HR. Ahmad dan Abu Daud mengatakan bahwa “Khamar itu telah dilaknat djatnya, orang yang meminumnya, orang yang menjualnya, orang yang membelinya, orang yang memerasnya, orang yang meminta untuk dipersaskan, orang yang membawanya, orang yang diminta untuk dibawakan daan orang yang memakan harganya”.

 

 

0
0