Oleh : Lalu Muhammad Alditia (PGSD Angakatan 2019)

Juara 1 Lomba Opini yang diadakan oleh Kementerian Kreativitas Mahasiswa BEM UNRAM 2020

75 tahun bangsa Indonesia merdeka, berdiri dan menyatakan diri sebagai bangsa berdaulat. Sebuah bangsa yang berdiri untuk tujuan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi . Untuk mencapai tujuannya itu ada satu hal yang sangat mendasar yang akan menjadi penentu yakni Pendidikan. Namun apakah pendidikan kita Sudah baik, seperti apakahkah pendidikan kita saat ini ??. Untuk menjawab pernyataan itu mari kita lihat data berikut ini.

Survei yang dilakukan oleh Programme For Internasional Students Assessment (PISA) kemampuan belajar pada tahun 2019 menetapkan Indonesia di peringkat ke-72 dari 77 negara. Dan, data dari Education index tahun 2017 menpatkan Indonesia berda pada posisi ke tujuh dari keseluruhan negara-negara di wilayah Asean. Kemudian data dari UNESCO dalam Global Education Monitoring (GGM) pada tahun 2016, menyatakan mutu pendidikan Indonesia berada diperingkat ke-10 dari 14 negara berkembang dan untuk kualitas guru berada di peringkat ke-14 dari 14 negara berkembang. Dari data ini menunjukan parahnya Pendidikan di Indonesia, dari waktu ke waktu pendidikan kita tak kunjung mengalami perbaikan malah timbul semakin banyak permasalahan dan polemik-polemik baru yang semakin memperkeruh keadaan. Sebenarnya yang menjadi masalah utama dalam dunia pendidikan kita adalah masalah-masalah klise seperti pemerataan pendidikan, kurangnya fasilitas pendukung kegiatan belajar dan rendahnya kualitas serta kuantitas tenaga pendidik. 75 % sekolah di Indonesia diaktakan tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan. Hal ini dikarenakan pembangunan fasilitas pendidikan hanya berfokus pada daerah atau kota-kota besar sedangkan untuk daerah-daerah yang jauh dari pusat kota dan yang berada di daerah pedalaman tidak pernah mendapatkan perhatian yang berarti. Yang lebih parah adalah pabila kita berbicara tentang kualitas guru atau tenaga pendidik. Ditahan

2013 dari 3,9 juta guru yang ada , sebanyak 25% belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan 52% belum memiliki sertifikat profesi. Dan yang paling menyedihkan selain kurang dalam kualitas guru di Indonesia ternyata rendah dalam kuantitas. Menurut Direktur pembinaan guru pendidikan dasar, Kemendikbud Menyatakan setidaknya Indonesia kekurangan sekitar 735.000 guru. Penyebab permasalahan-permasalahan diatas tidak kunjung tuntas ialah penanganan dan pengelolaan pendidikan kita yang masih jauh dari kata baik.Pendidikan kita terlalu sering mengadopsi sistem atau pola-pola pendidikan negara lain. Hal ini dianggap bisa menjadi solusi, namun yang tidak menjadi pertimbangan pemerintah apakah sudah siapkah kita atau cocoklah kita untuk menerapkan hal tersebut.

Contohnya adalah kebijakan terbaru dari pemerintah yakni merdeka belajar, yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta memperbaiki dan meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. Konsep merdeka belajar ini bisa dibilang adalah hasil adopsi dari sistem pendidikan di negara-negara yang sudah maju dalam hal pendidikannya. Secara garis besar merdeka belajar ini memiliki bagian yang saling berketerkaitan yang diperkenalkan oleh pemerintah dalam beberapa tahapan atau episode .

Tahapan pertama adalah pengenalan konsep merdeka belajar dan pengenalan kebijakan-kebijakan baru dalam sistem pendidikan dasar dan menengah, seperti penghapusan UN yang digantikan dengan asesmen Kompetensi minimum dan survey karakter, kemudian pembebasan kepada sekolah dalam melakukan USBN, serta penyederhanaan RPP dan pelonggaran sistem zonasi. Program ini dinilai tidak akan mampu berjalan optimal dikarenakan ketidak siapaan dari instansi pendidikan kita untuk melaksanakannya.

Kemudian ditahapan kedua diperkenalkan sebuah program lanjutan yang disebut kampus merdeka. Yang esensinya adalah membuat suatu ekosistem yang tidak dibatasi agar muncul sebuah inovasi . Penerapannya dilakukan dengan adanya 4 kebijakan seperti pemberian hak pembukaan prodi baru di setiap universitas, perubahan mekanisme kareditasi , selanjutnya mempermudah proses sebuah PTN untuk menjadi PTN BH, dan yang terakhir adalah adanya kebebasan mahasiswa untuk belajar 3 semester di luar prodi. Program ini disambut dengan begitu banyak pro dan kontra karena kebanyakan programnya dinilai telah berjalan menyimpang dari esensi pendidikan yang sesungguhnya seperti adanya kebijakan pembeebasan kerjasama

antara perguruan tinggi dengan pihak-pihak suasta/ korporasi dalam membuka prodi baru dan disirongnya perguruan tinggi menjadi PTN BH yang akan semakin mengeksklusifkan dan mengkomersialkan pendidikan di Indonesia.

Untuk ditahap ketiga , pemerintah mengeluarkan kebijakan baru terkaitfleksibilitas penggunaan dana bos ,serta beberapa perubahan regulasi dan system penyaluran nya. Juga terkait adanya peningkatan jumlah dana yang diterima tiap satuan pendidikan. Hal ini tentu saja sangat baik namun apabila pengawasan terhadap penggunaan dana bos ini tidak diperketat maka potensi penyimpangan dan tetap akan terbuka lebar sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak dapat terlaksana secara maksimal.

Selanjutnya di tahap ke empat, diperkenalkan sebuah sistem yang diberinama organisasi penggerak, yang inti dari programnya adalah melakukan kolaborasi atau kerjasama dengan beberapa lembaga independen dalam usaha untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan kepala sekolah di Indonesia. Tak tanggung-tanggungdalam program ini pemerintah menggelontorkan dana senilai 575 miliar rupiah yang tentu saja akan sangat rawan penyalahgunaan apabila tidak dibarengngi dengan pengawasan yang ketat

Dan yang terakhir tahap ke lima , dikenal sebagai guru penggerak . Merupakan pelatihan,dana pembibitan guru untuk disiapkan menempati posisi-posisi sentaral dalam dunia pendidikan seperti pengawasan sekolah ,kepala sekolah dan sebagainya. Program- program diatas memang terlihat begitu baik dan seakan-akan menjadi jawaban dari permasalahan pendidikan kita selama ini. Namun apabial kita cermati bersama akan ada begitu banyak masalah yang akan ditimbulkan apabila program ini diterapkan , karena program ini belumlah relevan dan terkesan melompat terlalu jauh dari keadaan rill Pendidikan kita saat ini.

Yang harus dijadikan fokus pemerintah seharusnya adalah bagaimana menyelesaikan permasalah-permasalahan mendasar dalam dunia pendidikan kita seperti pemerataan pendidikan, bagaimana agar semua anak-anak di Indonesia dapat menikmati manisnya pendidikan dan semua anak bisa menikmati belajar dikelas dengan nyaman dan aman serta bagiamana agar guru-guru di Indonesia dapat memiliki kualitas yang mumpuni yang tentu saja harus didahului oleh pemerataan dan peningkatan kesejahteraannya karna bagaimana seorang guru dapat bekerja maksimal dapat mengajar dengan baik apabila ia terus dihantui rasa cemas tentang ekonominya dan kejelasan masa depannya.

Pemerintah harus sadar bahwa sistem ini belum siap untuk diimplementasikan dinegara kita saat ini karna bagaiman sistem zonasi bisa maksimal kalau hanya sekolah- sekolah di kota-kota besar saja yang memiliki fasilitas pendidikan yang baik, bagaimana kebijakan pembebasan pelaksanaan USBN dapat berjalan maksimal ketika sekolah-sekolah masih belum mampu membuat sebuah pola penilaian baru untuk menentukan kelulusan siswa karna kualitas guru yang masih snagat rendah. kebijakan kampus merdeka yang seakan-akan mengkomersialkan pendidikan di Indonesia. Dimana esensi pendidikan Indonesia untuk mencetak generasi yang mampu membuat inovasi malah dibelenggu dan disipkan untuk menjadi lokomotif kapitalis, budak industri sekaligus menanamkan mental buruh pada setiap generasi bangsa. Ditambah lagi dengan program organisasi penggerak yang bermasalah dan sangat rentan akan penyimpangan dana serta berbagai kebijakan lain yang terkesan hanya akan menimbulkan polemik baru ketimbang solusi .

Merdeka belajar bukanlah solusi untuk pendidikan Indonesia, Indonesia butuh pemerataan pendidikan, guru-guru Indonesia butuh kesejahteraan nya diperhatikan. Jadi alih-alih melangkah terlalu jauh alangkah baiknya selesaikan dulu permasalahan mendasar Pendidikan kita . Saya percaya ketika kebutuhan dasar pendidikan sudah terpenuhi kemajuan pendidikan Indonesia bukanlah mimpi lagi.

Di momen kemerdekaan Indonesia yang ke 75 ini semoga menjadi awal yang baru bagai dunia pendidikan kita menjadi awal untuk berbenah menyadari segala kesalahan dan memperbaikinya yang tentu saja memerlukan andil dari kita semua ,segenap rakyat Indonesia. Mari berikan yang terbaik untuk pendidikan Indonesia yang yang lebih baik.

0
0