Oleh : Muh. Amri Akbar (Presiden Mahasiswa Unram 2019)

Akhir² ini banyak ucapan “selamat jalan dan terimakasih atas dedikasi bem unram 2019”.
Saya ucapkan terimakasih atas apresiasinya. Namun, saat ini sebagai mahasiswa yg pernah memimpin di lembaga eksekutif tertinggi universitas dan mewakili segenap mereka yg pernah ada di dalam barisan pengabdian dan perjuangan ini, saya harus berkata jujur sekaligus sebagai bentuk permintaan maaf kepada BEM Unram 2020. “Maaf, kami mewairisi mu masalah”.
Ingin hati memeluk gunung, tapi apalah daya tangan tak sampai. Kira² pepatah tersebut yang dapat memberikan gambaran tentang keadaan dan pergulatan yg ada. Kontribusi dan kerja ikhlas ingin kami berikan sebesar – besarnya kepada segenap keluarga besar mahasiswa universitas mataram. Namun tepian telah kelihatan, mendadakan bahwa kapal haruslah segera berlabu. Nahkoda lama harus siap dan bersedia digantikan oleh nahkoda baru. Kapal tak boleh terlalu lama menepi, nahkoda baru harus segera berlayar.

“Maaf, kami mewarisimu masalah”.
Masalah yg sekiranya menjadi hajat hidup manusia banyak. Hajat dan cita² orang tua di kampung yang menginginkan anaknya berpendidikan tinggi tanpa terkendala biaya kuliah yang mahal. Hajat mahasiswa yg ingin mendapatkan keadilan pendidikan. Hajat dosen yg ingin memperbaiki kualitas dan mutu. Maka engkau mau tak mau harus menerima warisan ini.
Dan ingin ku sampaikan,namun bukan bermakna pembenaran akan kurangnya kinerja-kinerja yang kami berikan, waktulah yg menjadi algojo tanpa belaskasih yang memutuskan rantai impian sekumpulan anak muda yg memberi label diri “irama juang”. Cita – cita pengabdian adalah menuntaskan pengabdian ini setuntas tuntasnya, namun kompleksitas persoalan dikampus dan pada akhirnya kompleksnya masalah tak sebanding dgn masa bakti yg ada. Sampai akhirnya mau tidak mau ia harus menjadi barang warisan untuk generasimu.

Melalui tulisan singkat ini, saya tuliskan beberapa persoalan agar engkau bersiap² dan saudara ku mahasiswa universitas mataram dapat mengetahui kemudian ikut mengawal serta mensuport setiap langkah – langkah yg akan kau pilih
“Maaf, kami mewarisimu masalah”.

1. Pembebesan uang pangkal
Meskipun SK Rektor tentang pembebasan uang pangkal bagi mahasiswa tidak mampu sudah di terbitkan, namun itu tidak menjadi jaminan. Tidak menutup kemungkinan akan banyak muncul polemik dan kendala² teknis seperti persyaratan administrasi, timeline dan seterusnya. Menyiapkan amunisi advokasi bukan hal yg lebay mengingat mental birokrasi yang tidak banyak berubah dari sebelum-sebelumnya. Dan perjuangan uang pangkal ini harus tetap dilanjutkan karena kebijakan saat ini belum dapat dirasakan dan menagkomodir secara menyeluruh mahasiswa dan orang tua mahasiswa. Jika 2020 tidak bisa dihapus minimal uang pangkal dapat di gread kan sesuai dengan amanat Undang – Undang.

2. Kasus suap KKN
Sampai dengan hari ini kasus suap menyuap KKN belum ada kejelasan. Tim yg dibentuk dengan di ketuai oleh WR 1 tak ada kabarnya lagi. Jangankan hasil, proses penyelidikan dan pengusutan tak ada yg tau sudah sampai mana. Teramat disayangkan, kampus yang harusnya menjadi epicentrum pembentukan nilai – nilai moral justru tidak mampu dan gagal menghadirkan yang namanya kejujuran. Setiap kali kami menanyakan dan mem-follow up isu, berbagai dalih dan alasan. Kasus ini harus tetap menjadi prioritas, karena dengan kasus ini kita dapat menguji sejauh mana universitas mataram berikhtiar untuk melakukan perbaikan, tidak hanya perbaikan fisik gedung namum juga perbaikan mental-mental manusia yg ada didalamnya.

3. Penilepan bidik misi
Sama hal nya dengan suap KKN, pimpinan universitas kembali membentuk tim khusus dan kali ini lebih elit. Namun, tak ada hasil yg di dapat ! Hanya mutasi beberapa pengawai di awal kasus karena banyaknya desakan dari mahasiswa (bem) dan saya fikir kebijakan yang di keluarkan (mutasi) hanya untuk meredam dan memadamkan isu. Bisa jadi penilepan bidik misi merupakan klu awal untuk kasus- kasus yang lain. Namun, keseriusan dari pimpinan kampus untuk membukanya tak bisa bertahan lama, tim tidak ada berita kabarnya. Jika kampus tidak bisa mengahadirkan keadilan maka setidaknya kampus mampu menghadirkan kejujuran.

 

4. Pengembalian UKT mahasiswa yg telah wisuda
Salah satu tuntutan aksi tgl 24 september adalah potongan 60% UKT utk semester 9 ke atas namun setelah melalui proses dialogis disepakati bawah ukt akan dikembalikan 100% jika mahasiswa yang telah membayar ukt untuk 1 semester kemudian bisa menyelesaikan studinya pada semester tersebut (yudisium). Namun sampai hari ini hal tersebut sangat di perumit oleh birokrasi universitas. Berbagai macam alasan dan pembenaran di keluarkan. Pada akhirnya masa purna bakti bem unram 2019 lebih dulu tiba daripada terselesaikannya masalah tersebut.

Ini hanya sedikit dari sekian banyak persoalan yang belum tuntas. Saya mengaminkan bahwa tak ada gading yang tak retak, tak ada yang luput dari kekurangan dan kesalahan. Atas nama pribadi dan segenap kepengurusan kabinet irama juang bem unram 2019 memohon maaf yang sebesar besarnya atas segala kekurangan terutama dalam mengawal isu – isu sampai tuntas. Dan saya mengharapkan kedewasaan kita semua agar dapat dengan lapang menerima warisan masalah ini untuk dapat bersama – sama mengawal terkhusus kepada bem unram 2020 mohon maaf, kami mewarisi mu masalah.

0
0