Oleh : Muhammad Amri Akbar (Presiden Mahasiswa UNRAM)

 

Saya ingin memberi tanggapan sebuah tulisan yang beredar di berita online yang menurut kabar yang saya dengar salah seorang dari pengurus DPM Unram yang memiliki karya tulis tersebut.

Saya mengapresiasi usaha intelektual yang coba di bangun dan di budayakan serta budayakan sikap kritis untuk memaksimalkan tupoksi sebagai lembaga legislative meskipun cukup terlambat untuk  menjalankan tupoksi DPM itu sendiri sebagai lembaga check and balance system kepada bem unram selaku lembaga eksekutif tertinggi dalam menjalankan roda organisasi  agar terciptanya kehidupan organisasi kampus yang ideal serta mampu menjadi miniatur negara yang dapat melahirkan formulasi baru sebagai sumbangsih pemikiran untuk bangsa dan negera. Namun ada beberapa hal yang ingin saya luruskan agar tulisan yang saya anasir hanya bermuatan 98% nya adalah opini dan asumsi semata tanpa ada basis argumentasi atau analisa kritis yang jelas – rasional dan logis, data, studi kasus dan teknis anggaran tersebut bisa mengalir sampai ke kantong pribadi atau di hambur-hamburkan tidak berakhir menjadi fitnah belaka diakhir kepengurusan kabinet irama juang 2019 ini.

Pertama, suatu organisasi sudah jelas dan wajib memiliki kelengkapan struktural, konsep pengelolaan dan proses birokrasi di dalamnya. BEM Unram kabinet Irama juang 2019 dalam proses pengelolaan organisasi memiliki kelengkapan struktural yang sudah di tetapkan sejak dilantiknya dan tak pernah mengalami perubahan. Kelengkapan struktural tersebut di design dengan tugas pokok dan fungsi guna mempermudah jalan untuk mencapai visi dan misi kabinet.

Saya tidak akan berkalam terlalu jauh, kita akan fokus kepada sistem pengelolaan keuangan organisasi. BEM Unram membagi post2 anggaran yang bersumber dari Rektorat Unram berdasarkan program kerja kementerian yang sudah di rasionalisasikan dan disahkan bersama DPM Unram dalam sidang Rasionalisasi yang di adakan oleh DPM Unram sendiri. Saya masih ingat pada saat sidang rasionalisasi proker bem unram, saudara yang menulis tulisan tersebut tidak ada dalam persidangan karena belum bergabung dan menjadi pengurus DPM Unram, karena DPM Unram juga belum memiliki sistem yang jelas dalam perekrutan pengurus yang pada esensinya mereka adalah lembaga perwakilan namun orang-orang yang ada di dalam DPM Unram yang mengaku sebagai perwakilan mahasiswa tapi tidak mewakili siapa pun karena memang pengurus DPM Unram belum dipilih langsung oleh mahasiswa. Sehingga di pertengahan kepengurasan masuk orang-orang yang tidak tahu duduk jelasnya suatu persoalan. Di dalam kementerian itu sendiri masing-masing telah dilengakapi dengan seorang bendahara yang tugasnya melakukan pendataam administrasi terhadap penggunaan keuangan kementerian dan memberikan laporan kepada Bendahara Umum  setiap 2X sebulan atau dalam agenda Rapat Badan Pengurus Harian Bem Unram.

Pencairan anggaran pun semua berbasis program kerja. Dalam mengeksekusi program kerja dibentuk panitia pelaksana yang dimana dalam kepanitian juga di lengkapi dengan bendahara panitia. Uang yang diterima dari rektorat atas nama kepanitian untuk melaksanakan program kerja sepenuhnya di pegang dan kelola oleh bendahara panitia dan apabila kegiatan telah selesai maka laporan pertanggung jawaban penggunaan anggaran harus segera diserahkan kepada pihak keuangan rektorat. Bendahara kementerian hanya memonitoring dan menerima laporan. Artinya, bahwa angagran dari rektorat tidak ada yang sampai kepada bendahara kementerian atau bendahara umum melainkan langsung digunakan untuk kegiatan. Apalagi akan sampai ke kantong Presiden Mahasiswa, Presiden Mahasiswa hanya mengevaluasi progres dan menerima laporan dari BPH dalam rapat evaluasi BPH BEM Unram. Kemudian sistem pencairan anggaran di rektorat adalah sistem bantuan dan kemampuan birokrasi bukan atas Rencana Anggarana Belanja Kepanitian. Misalnya kegiatan beasiswa entreprenuer besar RAB yang diajukan adalah 10 juta namun yang bisa di cairkan hanya 3 juta karena birokrasi bisa membantu (bahasanya birokrasi) hanya sebesar itu. Saya yakin teman-teman yang penggiat organisasi pasti paham dan hafal soal ini. Jadi jangankan masuk ke kantong, anggaran kegiatan saja tidak cukup dari birokrasi dan kepanitian harus banting tulang untuk mencukupi anggaran kegiatan.

Kemudian terkait angka yang disebut dalam tulisannya bahwa bem sudah menggunakan anggaran dari rektorat sebesar 76 juta. Penulis sebelumnya tidak pernah mencoba membangun budaya check and balance dengan meminta klarifikasi kepada bendahara umum maupun ke saya pribadi. Bahwa hal tersebut adalah kekeliruan dari birokrasi. Anggaran yang baru di gunakan oleh bem unram selama hampir 1 tahun kepengurusan baru 42-an juta dari total anggaran 50 juta. Bisa di cek dari LPJ kepanitian, total rekapan bendahara kepanitian, bendahara kementerian dan laporan bendahara umum BEM Unram. Uang 34-an juta berikutnya adalah total uang perjalan dinas bem unram setiap kali mengikuti kegiatan2 nasional untuk mewakili Universitas Mataram. Dan anggaran tersebut tidak di hitung dari 50 juta yang telah di alokasi untuk kegiatan bem unram karena dari kepengurusan sebelum-sebelumnya pun seperti itu bahkan organisasi yang lainpun sama. Kalau perjalanan dinas adalah uang organisasi lantas bagaimana mereka yang menjadi perwakilan kampus yang tidak mewakili organisasi atau bahkan tidak mengikuti organisasi.

Berikutnya penulis sering menyebutkan bahwa kepengurusan bem banyak dirasuki permasalahan. Saya pribadi iyakan ! BEM unram banyak dirasuki permasalahan. Permasalahan yang BEM sedang hadapi sekarang adalah mengadvokasikan teman-teman mahasiswa eks- reguler sore yang tidak sempat melakukan verifikasi UKT yang jumlahnya ribuan orang. Belum lagi masalah bangsa dan daerah yang mahasiswa harus ambil andil dan peran didalamnya. Sedari awal kepengurusan BEM Unram sudah banyak dirasuki masalah hal tersebut bisa dilihat dengan adanya 2 kali aksi besar dalam kampus, temuan kasus korupsi beasiswa bidik misi, sampai dengan 2 kali aksi besar dalam sejarah gerakan mahasiswa di ntb, bem unram kabinet irama juang terlibat aktif, berkontribusi serta mengambil peran didalamnya.

Kemudian penulis sering menyampaikam bahwa tidak ada itikad baik dan komunikasi yang dibangun oleh BEM  Unram kepada DPM Unram. Hanya saja, sayangnya saudara yang tak pernah hadir dalam forum – forum ilmiah antara BEM dan DPM . Pernah hadir tapi hanya sebagai penambah kuantitas massa forum.

Saya berterimakasih atas kritik yang disampaikan, karena saudara penulis menyebut kongkrit satu kepengurusan BEM Unram maka tugas dan kewajibam saya adalah menjawab. Agar apa yang disampaikan tidak menjadi sekat kepercayaan antara BEM Unram dengan mahasiswa yang sudah bangun sedari awal kepengurusan, karena masih banyak tugas – tugas besar di akhir kepengurusan ini yang kita semua harus berlari lebih cepat dari biasanya untuk menyelesaikannya. BEM Unram tidak akan mampu jika tidak adanya dukungan dan kepercayaan dari mahasiswa Universitas Mataram.

 

Hidup Mahasiswa !!

Hidup Rakyat Indonesia !!

0
0