Oleh : ZIKRIATUL AINI(magang sospol BEM UNRAM 2019)

28 Oktober 1928 merupakan salah satu hari bersejarah bagi bangsa Indonesia,hari dimana kala itu menjadi awal kebangkitan semangat perjuangan dari para pemuda-pemuda bangsa. Dimana para pemuda dari berbagai suku, daerah datang dan berkumpul di Jakarta menyatukan pikiran dan semangat. Mereka berbaur menjadi satu-kesatuan yang utuh untuk kemerdekaan dan kebebasan Indonesia dari belenggu penjajahan tanpa memandang dari suku,agama,ras dan budaya mana mereka berasal. Sehingga lahirlah sumpah pemuda, sumpah yang dijadikan sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme, sumpah yang menjadi kebanggaan, sumpah yang menjadi identitas bangsa, sumpah yang menjadi saksi perjuangan para pemuda bangsa Indonesia.

74 tahun sudah bangsa Indonesia telah merdeka dan 91 tahun sudah semangat yang bergelora dari para pemuda bukti dari perjuangan mereka untuk menyatukan bangsa ini. Namun, semangat perjuangan para pemuda terdahulu yang diwariskan kepada kita pemuda masa kini atau sering disebut kaum milenial, apakah masih terlihat ada ataukah sudah mati?. Kemerdekaan yang dimiliki bangsa ini sejatinya apakah bisa kita sebut bener-bener merdeka, karna melihat keadaan negeri yang carut-marut disana-sini. Apakah kemerdekaan yang ada di dalam mindset yang kita miliki hanya sekedar terbatas pada menang melawan para penjajah seperti yang tertulis di dalam buku sejarah. Ataukah negeri yang kita pijaki ini merupakan hasil pengorbanan pertumpahan darah dari para pahlawan atau para pendahulu kita. Lalu mari pertanyakan itu kepada diri kita masing-masing terutama kita para mahasiswa, kontribusi apa yang sudah kita berikan kepada bangsa ini?

 

Kita harus melek kawan melihat keadaan bangsa kita yang tidak sehat ini. Dimana para saudara-saudara kita dari papua di deskriminasi dan diperlakukan rasis. Mereka para mahasiswa dari papua yang berkuliah di luar daerah seperti di Surabaya,malang dan daerah lainnya, diduga mereka telah mendapatkan tindakan seperti penyerbuan,kekerasan,pelemparan gas airmata, pelontoran kata-kata bernada rasis seperti anjing dan monyet, dan ujaran kebencian, termasuk kata-kata intimidatif lainnya. Termasuk juga ormas yang mendatangi asrama dengan melempari mahasiswa dengan batu dan memaki mahasiswa papua dengan ujaran rasis. Sementara itu polisi dan aparat TNI cuma diam.

Dua hari usai kejadian, tindakan rasisme itu di respon luarbiasa di Papua. Tepat sehari setelah negara ini merayakan kemerdekaan ke-74, Papua bergolak. Dari Jayapura, Manokwari, Nabire, Sorong, lalu menyusun Fakfak dan Mimika. Ujaran rasis di Surabaya memicu kemarahan, mereka melakukan aksi besar-besaran, membakar, merusak.
Melihat tindakan yang didapatkan oleh saudara-saudara kita yang di Papua sana,apakah kita para pemuda masih tetap bungkam dan duduk diam dengan nyaman di bangku kuliah. Lewat ajang peringatan hari sumpah pemuda ini mari kuatkan dan tanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air di dalam diri kita masing-masing,stop rasisme,rangkul kembali saudara-saudara kita yang dari papua jangan biarkan mereka melepaskan diri dari NKRI ini,berikan perlindungan,keamanan,dan kenyamanan terhadap mereka.

Sesuai dengan semboyan yang dimiliki bangsa Indonesia yaitu Bhineka tunggal ika yang bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu jua,seharusnya menjadikan perbedaan dan keberagaman yang ada sudah sepatutnya kita syukuri,karna belum tentu bangsa lain memilikinya dan disinilah peran pemuda untuk tetap dapat mempersatukan bangsa ini di tengah kemajemukan yang ada,karna dengan bersatu kita menjadi kuat dan dengan bersatu kita dapat mencapai kemerdekaan.
Stop rasisme di Bumi Pertiwi,warna kulit boleh berbeda,namun bukan berarti perbedaan harus menimbulkan luka. Mari kita bangun dari tidur nyenyak kita dalam mengejar akademik karna nilai saja tak cukup untuk menyelesaikan berbagai polemic di negeri ini. Perayaan sumpah pemuda ini bukanlah perayaan tanpa arti tetapi ini dari rakyat yang masih memiliki hati,dan ingat sesungguhnya rakyat tidak membutuhkan IPK tinggi tetapi mereka butuh gerakan yang nyata dari kalian,dari kita , dari para pemuda yang mengaku cinta Negerinya.

0
0