Oleh : M Fauzin Al Habib Koordinator kajian Startegis BEM UNRAM

Reformasi mengingatkan kita bahwa gerakan mahasiswa di masa lalu menjadi sebuah romantika kemenangan besar gerakan mahasiswa dan selalu coba ditransformasikan pada setiap pengkaderan lembaga kemahasiswaan hari ini. Mahasiswa dianggap kelas yang paling bertanggungjawab atas penegakan moral dalam masyarakat, setidaknya itu dibuktikan melalui keruntuhan era orde baru dimana mahasiswa menjadi aktor utama dalam melengserkan Soeharto.

Keruntuhan orde baru ternyata tidak ditanggapi secara progresif oleh mahasiswa di generasi selanjutnya. Ada keresahan yang kemudian memunculkan asumsi  dan pertanyaan, ke mana arah gerakan mahasiswa akan berlabuh kini? Beberapa pertanyaan seperti, apa penyebab kemunduran dan kepekaan mahasiswa terhadap realitas sosial hari ini; apakah kepentingan antar kelompok mahasiswa yang saling bersinggungan? Atau meraka saling berbenturan mencari pangung di parlamen jalanan? Intelektualitas mahasiswa yang bergeser ke arah budaya konsumtif?  Ataukah ada relasi kekuasan birokrasi kepada kelompok mahasiswa tertentu yang menyebabkan sekat sesama mahasiswa?

Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan itu dan dengan melihat stagnasi gerakan mahasiswa hari ini, narasi ini secara sederhana mencoba melihat realitas kekinian mahasiswa ‘zaman now’ yang baru saja menginjakkan kakinya di kampus. saya melihat ada pergeseran paradigma dari mahasiswa pergerakan ala Soe Hok Gie bergeser menjadi mahasiswa ala kompetitor perlombaan, dimana bercita-cita menang kompetisisi debat, menjadi penulis naskah ilmiah terbaik, lalu wajahnya dipasang di baliho depan kampus. Apakah ini sebenarnya bentuk pergerakan mahasiswa kekinian? Ataukah justru upaya meredam terciptanya mahasiswa kritis yang mampu menggoyahkan pemerintahan?

Ada beberapa pendapat sederhana yang saya temukan mengenai hal apa yang menjadi penyebab kemunduran gerakan mahasiswa. saya berangkat dari sejarah kelam efek normalisasi kehidupan kampus di masa lalu, yang berimplikasi terhadap realitas gerakan mahasiswa sekarang.

Di masa lalu, anda tentu tidak lupa dengan kebijakan orde baru mengenai normalisasi kehidupan kampus yang dilakukan secara sentralistik oleh negara lewat program NKK/BKK. Kebijakan tersebut kemudian yang menjadi dasar mematikan organisasi internal kampus, semisal senat mahasiswa yang pada waktu itu pusat gerakan mahasiswa, kemudian diiringi dengan pendirian Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mengalihkan energi mahasiswa kearah minat dan bakat persis seperti yang terjadi hari ini.

Tentu kita dapat curiga hal tersebut yang memutus kultur gerakan mahasiswa sehingga terjadi kemerosotan arah gerakan mahasiswa di masa lalu dan era sekarang. UKM penyebab pudarnya hasrat mahasiswa untuk peka terhadap realitas di luar kampus yang sarat dengan persoalan sosial, politik, dan ekonomi bangsa. konsentrasi mahasiswa teralihkan menyebabkan kemunduran gerakan mahasiswa. Efek hadirnya UKM menyebabkan mahasiswa secara struktural dan kultural sukarela dan iklas menerima kontrol birokrasi kampus melalui kebijakan yang hampir selalu dalam sejarahnya merupakan alat mematikan daya kritis mahasiswa, ibarat bukankah mahasiswa itu sifatnya selalu begerak? Emmm..“musuh dalam selimut” bagi gerakan mahasiswa.

Pendapat kedua, saya  mungkin lebih spekulatif dari pada pendapat pertama, bahwa penyebab lainya adalah bergesernya kultur intelektualitas mahasiswa ke arah budaya konsumtif sebagai kaum hedon. Konsumsi bukan hanya soal membeli barang dan memakainya, namun kebudayaan konsumtif menentukan cara kita berinteraksi dan hidup di lingkungan sosial kita.

Budaya konsumtif yang dibangun melalui budaya populer yang kemudian oleh industri kapitalisme menciptakan produk-produk yang memaksa mahasiswa berorientasi untuk menghidupkan citranya menjadi penyusup dalam mematikan nalar kritis manusia. Setidaknya itu yang dikatakan Herbert Marcuse dalam One Dimensional Man (1964) bahwa citra menjelma menjadi mantra gaib yang menyusup ke segala sisi kehidupan individu dan masyarakat, bahkan memainkan peranan besar dalam dunia politik dan kekuasaan.

Meminjam istilah Pierre Bourdieu mengenai Habitus yang berubah dan mengkondisikan perubahan lingkungan kultural serta menciptakan keadaan dimana produksi wacana kritis melalui budaya intelektual terkikis habis disebabkan oleh perubahan gaya hidup mahasiswa itu sendiri, yang orientasinya adalah citra.

Dalam pandangan Jean Baudrillard, ia melukiskan hal tersebut sebagai ketidak mampuan kesadaran yang membedakan kenyataan dan fantasi yang merupakan kondisi kaburnya tanda dan realitas gambaran analoginya seperti larutnya Televisi (TV) Medsos ke dalam kehidupan dan larutnya kehidupan ke dalam TV dan medsos. Kondisi itu menggambarkan sesuatu yang nyata, menjadi utama, lalu berkuasa.

Kita kemudian menjadi babu percobaan, yang menciptakan lingkaran yang tidak berdasar. Sederhananya, kemunduran gerakan mahasiswa disebabkan oleh pengaruh tren hidup mahasiswa dan aktivis-aktivisnya yang semakin tergila oleh budaya popular yang kita tahu dimotori oleh teknologi dan informasi, fantasi media, dan dunia hiburan yang menyembunyikan kesenangan.

Pendapat terakhir saya yaitu, adanya relasi kekuasaan birokrasi dengan institusi politik terhadap lembaga kemahasiswaan yang menyebabkan lemahnya independensi gerakan mahasiswa. Kondisi ini menghadirkan relasi kekuasaan baru yang  merongrong tubuh mahasiswa serta menjerat gerakan mahasiswa dalam pusaran kepentingan politik yang memperalat gerakan mahasiswa itu sendiri. Itu dibuktikan dengan munculnya organisasi “Cabang” partai politik dan terlibatnya birokrasi kampus dalam kontestasi politik nasional maupun lokal. Tentu dewasa ini kita sering menjumpai politisi-politisi yang sedang berkontestasi politik di daerah “bergandengan tangan” dengan birokrasi kampus di hadapan mahasiswa-mahasiswanya. Sayangnya, mahasiswa baru menjadi “korban” utama pencitraan tersebut.

Dengan sedetet pendapat dia atas, akhirnya gerakan mahasiswa yang idealnya independen mengalami stagnasi dan kemunduran orientasi gerakan sosial yang memunculkan ambiguitas dan kejumudan.

Amirul Mukminin Imam Ali as pernah berkata, kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Sebuah kalimat profetik seorang pemimpin Islam di masa lampau. Kalimat tersebut menyiratkan pentingya mengorganisir kebaikan dalam memukul mundur sebuah kedzaliman.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, bahwa di tengah produksi kebudayaan dan seringya terjadi pergeseran dan pertentangan antar sesama organ mahasiswa dalam kampus, perlu kemudian solusi alternatif dalam membangun gerakan mahasiswa yang kian sepi.

Seharusnya kita banyak belajar dari revolusi Republik Islam Iran bagaimana kelompok Islam dan kelompok kiri sosialis bersatu menumbangkan rezim Syah Pahlevi. Bagaimana kemudian, pemuda menjadi motor revolusi yang fenomenal tersebut. Namun pemuda atau mahasiswa mesti maju sebagai generasi yang paling di depan memegang tanggungjawab intelektual. Intelektualitas mahasiswa di perguruan tinggi mesti menjadi menara api. Menara cahaya bagi masyarakat luas.

Mahasiswa yang menjadi aktor intelektual dalam institusi pendidikan tinggi mempunyai tanggungjawab membebaskan rakyat dari belenggu ketidakadilan, kebodohan dan kemiskinan. Keadaan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan ini diharapkan sebagai pemicu bersatunya gerakan mahasiswa memupus sepinya jalan ini.
Diam bukan lagi emas, serta duduk di bangku perkuliahan dan memenangkan semua piala bukan lagi jalan yang benar. Di tengah ketertindasan dan hadirnya diskriminasi sosial, mahasiswa mesti membangun simpul gerakan sebagai solusi konkret melawan dominasi. Organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, serta organisasi minat bakat mesti keluar dari tempat nyaman mereka dan bersatu. Karena dengan begitu, jalan perjuangan ini akan kembali ‘ramai’.

#OPINI 

 

0
0