Oleh : Khaerul Muamalah

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namuj tidak jujur itu sulit diperbaiki”. –Bung Hatta

“Hidup Mahasiswa! Hidup rakyat indonesia” pekik mahasiswa dalam suatu aksi menolak Rancangan Undang-undang (RUU) KPK, RUU KUHP dll.

Mahasiswa berorasi, menggebu-gebu, heroik bak singa podium. Menjabarkan tuntutan demi tuntutan dari hasil kajian yang telah dibuat.

Kebetulan saat aksi, sore harinya pemuda tersebut ada jadwal Ujian Akhir Semester (UAS). Dengan tanpa malu dan ragu ia menyontek saat mengerjakan soal ujian.

Miris bukan? semoga ceita di atas hanya sebuah fiksi. ini tentang integritas. ini tentang konsistensi. ini tentang kesesuaian apa yang dikatakan dengan apa yang diperbuat.

Memang menjadi kewajiban mahasiwa untuk meluruskan apa-apa yang salah demi sebuah idealisme.

Namun, bagaimana clean government dapat terwujud bila kita masih belum bisa membersi
kan penyebab-penyebab tidak terwujudnya clean government dalam negeri ini? salah satunya soal kejujuran.

Ketidak jujuran bibit dari perilaku korupsi. indonesia menempati posisi ke-94, data dari corruption perpections indextahun 2016.

Korupsi menciptakan kerusakan yang sangat luar biasa dimasyarakat. Sampai-sampai PBB mengatakan bahwa kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia.

karena bukan sekedar soal memperbaiki li
ngkungan sekitar, lebih jauh lagi adalah tantang perbaiki diri kita sendiri. Kita generasi muda yang akan mengisi pos-pos penting negeri ini.

mungkin hari ini kita yang mendemo para penjabat karena kasus-kasus korupsinya, bisa jadi dikemudian hari kita lah yang di demo karena ketidak jujuran yang kita pupuk sejak berada dalam kampus. Bunuh yiran yang ada pada diri sebelum membunuh tiran dilingkungan yang luas.

0
0