Mataram (BEM UNRAM) – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Mataram (BEM UNRAM) melakukan aksi solidaritas atas terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau di Simpang Bank Indonesia (BI), Selasa (17/10). Aksi yang dihadiri oleh perwakilan beberapa BEM Fakultas ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan pada penanganan pemerintah yang lamban atas kejadian Karhutla di Provinsi Riau.

 

Sekitar 50 mahasiswa yang hadir memulai aksi dengan melakukan longmarch dari Masjid Raya hingga perempatan BI. Massa aksi kemudian melakukan orasi berkaitan dengan kasus Karhutla sekaligus menggalang dana sebagai bentuk kekecewaan terhadap penanganan Karhutla oleh pemerintah Riau. Dana yang terkumpul nantinya akan digunakan untuk membeli masker dan dikirimkan ke Riau. Tidak hanya menggalang dana, masa aksi juga menyebarkan selebaran sebagai bentuk pencerdasan kepada masyarakat akan bencana yang terjadi di Indonesia khususnya di Riau.

 

Dalam aksi ini, massa menilai Pemerintah  lebih fokus pada permasalahan politik dan mulai lepas tangan terhadap permasalah lingkungan yang terjadi di beberapa provinsi yang terkenda Karhutla.

 

“Sikap pemerintah saat ini yang tidak begitu proaktif terhadap permasalahan lingkungan ini lebih sibuk dengan permasalahan politik yang menguntungkan golongan tertentu justru suatu tindakan yang keliru,” Ujar Lalu Aryapanji Adipatiwardana selaku Koordinator Lapangan (Korlap).

 

Ia juga menyarankan agar pemerintah mengerahkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk mengatasi karhutla di Riau. Kondisi udara di Riau sudah mencapai tahap sangat berbahaya untuk ditinggali. Dikutip dari tirto.id bahwa asap sisa Karhutla Riau ini telah menyebabkan penghitungan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) rata-rata di angka 300 dan masuk kategori “berbahaya”.

Melihat hal ini seharusnya pemerintah segara menuntaskan permasalahan kebakaran ini saya rasa tidak akan sulit untuk dilakukan silahkan pemerintah kerahkan seluruh anggota TNI untuk terjun langsung kelapangan menadamkan api,” Sambung Panji.

 

Panji berharap dengan tekanan dari mahasiswa di seluruh Indonesia serta masyarakat maka pemerintah mampu dengan lebih maksmal dalam melakukan menangani Karhutla. Jangan sampai hutan sebagai rumah bagi seluruh mahkluk hidup hilang begitu saja dan menyebabkan kerugian yang besar bagi Indonesia.

 

“Harap saya untuk khasus kebakaran ini segera dituntaskan dan ditindak lanjuti dengan serius agar negara Indonesia yang merupakan negara yang makmur kaya akan tumbuhan serta lingkungan yang asri dan pemandangan yang indah segara dapat kita rasakan kembali,” Pungkasnya.

 

“G17S atau mahasiswa Indonesia menyebutnya dengan gerakan September merupakan gerakan seluruh Indonesia atas luka yang terjadi di pulau Sumatera atas terjadinya kebakaran hutan secara masif di kawasan Riau terutama tercatat dalam kajian isu lingkungan Badan eksekutif Mahasiswa seluruh Indonesia telah terbakar sebesar 37260 hektar lahan produksi dan 15000 lahan mineral.

Sedangkan bencana asap sudah dirasakan mengganggu kegiatan manusia. asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan di Riau tersebut bukan hanya saja sampai di wilayah Kalimantan Utara tapi juga sampai ke Thailand dan Malaysia upaya pemerintah terasa masih belum masih dalam rangka mengurangi terjadinya kebakaran hutan baik melalui penanganan darurat dan upaya mengurangi nya secara preventif,” Kutipan selebaran masa aksi.

(ton)

0
0