Oleh : Asafi Layyina

Manusia. Siapa yang tidak mengenal manusia? Manusia dengan segala kesempurnaan yang dititipkan Sang Maha Sempurna. Akal, pikiran, dan iman yang selalu memupuk energi ketaqwaan hamba. Begitulah, manusia sebagai hamba dengan sebaik-baik penghambaan kepada Sang Maha Pencipta.

Manusia dalam konteks menjalin tali-temali silaturrahmi ialah manusia sebagai makhluk sosial. Manusia saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Simbiosis semacam inilah yang menyebabkan perlu dijaganya ruh silaturahmi, kepekaan sosial serta empati dalam diri setiap manusia.

Dewasa ini, banyak sekali kaum terpelajar yang mengaku mempelajari manusia akan tetapi masih nol dalam penerimaannya terhadap sesama. Banyak sekali orang-orang terdidik tetapi masih alpa dalam menghargai satu sama lain. Masih terlalu banyak yang menuhankan kepintaran otak yang penuh dengan teori-teori kemanusiaan yang naif. Banyak sekali yang mengaku menamatkan puluhan buku, tetapi justru menggunakan itu untuk membunuh empati terhadap sesama.

Lalu, untuk apa teori-teori dan buku-buku yang dibaca?

Begitulah manusia yang memanjakan ego yang mengelu-elukan diri sendiri. Dalam suatu forum atau organisasi, tak jarang kita temukan otak-otak berlian tetapi masih miskin empati. Kadang, hanya karena pemikiran dalam sudut yang pandang yang berbeda, seseorang melengkungkan senyum olokan dan menggunakan teori-teori sebagai pembenaran dalam dirinya. Padahal, begitu tidak sadarkah kita bahwa dalam saat yang bersamaan kita sedang mengatakan betapa dungunya kita dengan kepintaran yang kita miliki.

Dalam kasus yang berbeda, tak jarang pula terjadi sebuah pem-bully-an terselubung. Hanya karena seseorang yang menurut kita berbeda, kadang mereka bebas nyinyir tak jelas apalagi mendapat dukungan beberapa pihak. Anehnya, mereka kadang tidak sadar bahwa secara tidak langsung kita sedang menunjukkan bagaimana tidak punya hatinya kita.

Saat ini, sedang maraknya kelucuan yang mengatasnamakan kesempurnaan diri sendiri. Tunggu dulu! Jangan sempit berpikir mengatakan sempurna semata-mata dari sebaris kalimat “aku sempurna”. Lebih dari itu, tindak tanduk dalam melihat dan berbuat merasa lebih benar jauh lebih menekankan kesombongan atas kesempurnaan.

Penerimaan yang jarang dan empati yang mulai menipis, membuat dada-dada manusia yang berjuang untuk rakyat kadang terlihat tak ubah hanya sebuah pencitraan semata. Memang seperti itu adanya, berjuang untuk hal besar tetapi mengabaikan hal-hal sepele tetapi lebih berbahaya. Kata “baperan” yang mulai mengikis empati terdengar seperti cercauan anak-anak tak berperikemanusiaan yang melakukan drama kemanusiaan. Sebenarnya siapa kita? Se-Tuhan apakah kita dalam melakukan penilaian terhadap orang lain? Jika Tuhan saja dapat menerima segala bentuk hamba-Nya, apakah kita merasa lebih segalanya dari Sang Maha Segalanya sehingga tanpa berdosa melihat seseorang sebelah mata?

Kuharap generasi emas dan directur of change peradaban tidak lagi dibodoh-bodohi kata “baperan”. Siapa yang tau sedalam apa hati manusia? Bukankah mencoba menerima dalam penerimaan yang menuntut sebuah perbaikan untuk kesalahan lebih baik daripada hal itu?
Tak hanya kobar api semangat memperjuangkan hak rakyat yang patut dibanggakan. Kadang kita perlu mencoba melatih empati untuk menghasilkan keseimbangan dalam kehidupan.

#Opini

 

0
0