Oleh : Muhammad Isnaini Hamidi

Berbicara, berpendapat, beraspirasi dimuka umum merupakan hak yang tak boleh diganggu gugat oleh siapapun. Hal ini telah diatur sedemikian rupa dalam Undang-Undang (UU) Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa menyampaikan pendapat dimuka umum merupakan wujud demokrasi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini tentu menunjukkan bahwa jika kebebasan beraspirasi dan berpendapat dimuka umum dikebiri dan dibatasi maka dapat dikatakan bahwa demokrasi sudah tidak ada lagi. Regulasi ini cukup menjadi Payung hukum setiap warga negara menyampaikan aspirasi dan pendapatnya dimuka umum dengan gamblang dan jelas.

Namun saat ini, nyatanya kebebasan berpendapat itu masih saja dikekang dan dihalang halangi dengan munculnya statement “Mahasiswa itu tugasnya Kuliah, lulus cepat lalu kerja”. Stetement ini merupakan doktrinasi yang sengaja sedikit dikaburkan, sehingga tak heran banyak mahasiswa yang terpengaruh, banyak mahasiswa yang tidak berani menyatakan hasil pemikirannya, menyuarakan keresahan dan kekurangan yang mereka lihat di depan mata mereka. Mereka lebih senang mengoceh dan mengkritik dibelakang dengan nada yang amat sangat keberatan, tapi ketika mereka dihadapi dengan situasi yang sesungguhnya merupakan peluang mereka untuk menyuarakan keresahannya mereka bungkam seribu bahasa, mereka diselimuti oleh ketakutan yang menggerogoti tubuhnya. Melihat hal ini saya teringat sebuah petikan nasrasi dari seorang aktivis sejati.

“Jangan kau penjarakan ucapanmu. Jika kau menghamba pada ketakutan, Kita akan memperpanjang barisan perbudakan” – Wiji Thukul

Saya pikir, petikan narasi itu sangat cocok untuk menggambarkan keadaan mahasiswa yang hari ini lebih memilih mengoceh dan memprotes dibelakang layar, daripada bersuara dimuka umum dan bertindak nyata untuk melawan dan meruntuhkan tembok besar yang menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa.

 

Melihat situasi dan kondisi mahasiswa seperti saat ini, tak heran rasanya ketika hanya segelintir mahasiswa yang berani menyatakan pikiran dan narasi mereka untuk menunjukkan permasalahan-permasalahan mendarah daging di dalam tatanan kehidupan kampus mereka. Sebenarnya ini merupakan sebuah keberuntungan yang menjadi keistimewaan sebuah kampus khususnya bahkan sebuah negara yang memiliki orang-orang kritis, peduli terhadap keadilan, menentang keras kesewenang-wenangan dan mampu menguak permasalah dan kendala-kendala yang tersembunyi. Orang-orang seperti ini harusnya dilestarikan dan tentunya dijaga semangatnya karena dengan adanya mereka, kreasahan demi keresahan yang ada di lingkungan kampus bahkan negara dapat dilihat dan diselesaikan.

Coba bayangkan, ketika orang-orang kritis dan peduli ini lenyap dari muka bumi, maka tatanan kehidupan di negara ini khususnya di kampus-kampus akan dinakhodai oleh orang-orang yang rakus, orang orang yang tamak, orang-orang yang hanya memikirkan perut mereka sendiri. Mereka akan berbuat sesuka hati mereka, membuat kebijakan yang sepenuhnya menguntungkan diri mereka tanpa memperdulikan nasib orang-orang yang ada dibawahnya apalagi yang tak sealur dengan mereka. Tanyakan pada diri kita mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena tidak ada yang bertindak sebagai motor perubahan sekaligus motor pengontrol, dan itu adalah tugas para MAHASISWA!!!

Adalah wajar ketika mahasiswa mahasiswa kritis yang memprotes kebijakan-kebijakan yang dipandang meresahkan bagi mahasiswa. Persoalan transparansi anggaran, penghapusan uang pangkal yang komandonya tidak jelas, dan rumitnya sistem administrasi yang diterapkan. Hal ini merupakan masalah lumrah yang senantiasa dijuampai di setiap kampus. Dengan lantangnya mahasiswa menyuarakan hal ini, seharusnya pihak birokrasi harus peka bahwa ada sebuah kejanggalan yang ada dalam sistem yang selama ini digunakan. Namun sayangnya respon yang diterima mahasiswa tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bukan malah membenahi sistem yang ada karena kritikan yang dilontarkan mahasiswa, tapi malah mengecam mahasiswa yang menyuarakan keresahan dan aspirasinya. Mereka yang dengan tegas bersuara dianggap subversif dan mengganggu keamanan serta ketertiban kampus.

 

Betapa sembrautnya tatanan kehidupan kampus jika masih menggunakan sistem seperti ini, bukannya mempermudah tapi malah mempersulit mahasiswa. Maka dari itu saya tegaskan bahwa “Mahasiswa tugasnya bukan hanya Berkuliah, tapi Mahasiswa juga bertugas menjadi Agen of Change dan Agen of Control serta Iron Stock” yang akan menggantikan generasi generasi yang telah menua dimakan usia tapi semangat masih membara.

Mengingat tugas mahasiswa yang begitu urgent maka sedari sekarang mahasiswa harus melatih daya nalarnya, melatih kekritisannya, melatih fisiknya untuk bagaima kemudian bisa menjalankan tugas-tugasnya dengan semangat membara hingga terciptalah Iron Stock yang sesungguhnya.

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, kritik ditolak tanpa alasan, suara dibungkam, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: LAWAN!!!” – Wiji Thukul

 

#Opini

 

 

0
0