Mataram (BEM UNRAM) – Oknum suap kasus Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unram Periode Desember – Januari 2019 masih menjadi misteri. Kasus yang menyeret oknum mahasiswa dan pejabat kampus masih belum menemui titik terang.

 

Isu kasus suap KKN mulai diangkat pada saat ratusan mahasiswa melakukan aksi masa di depan gedung rektorat, Rabu (26/6). Pada tuntutannya mahasiswa menuntut agar pimpinan kampus mengusut dan memberikan sanksi kepada pelaku suap KKN.

 

“Saya masih ingat tuntutan massa aksi pada tanggal 26 Juni 2019 yang salah satu nya meminta pimpinan kampus untuk mengusut dan memberikan sanksi kepada pelaku tindak suap kasus KKN periode semester ganjil 2019. Baik yang menyuap maupun yang menerima suap,” Ujar Muhammad Amri Akbar dalam status facebooknya, Minggu (11/8).

 Ilustrasi Suap KKN

Ilustrasi Suap KKN

Muhammad Amri Akbar selaku Koordinator Umum Aksi diterima dengan baik oleh pihak kampus saat melakukan aksi dalam hal ini Rektor Unram, Prof. Dr. Lalu Husni, SH., M.Hum. Rektor berjanji akan menindak tegas pelaku suap KKN Periode Desember – Januari 2019 dengan membentuk Tim Investigasi yang diketuai oleh Bapak Agusdin, SE., MBA., DBA selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik, anggota tim dari unsur Senat, unsur pimpinan, dan Tim Hukum. Tim investigasi diberikan waktu 30 hari sejak dibentuk untuk mengusut kasus ini.

 

“Pimpinan kampus menerima dengan baik dan berjanji akan menyelesaikan kasus tersebut dengan memberikan sanksi kepada kedua belah pihak. komitmen tersebut di buktikan dengan telah di bentuknya tim khusus yang di pimpin langsung oleh pejabat tinggi kampus dan isi tim nya pun dari pejabat-pejabat tinggi kampus pula. Tim akan bekerja selama 30 hari kerja terhitung sejak tanggal di bentuknya,” Lanjutnya.

 

Amri kecewa dengan kinerja Tim Ivestigasi bentukan Rektor. Pasalnya tenggat waktu 30 hari yang diberikan sudah lama lewat. Sampai Minggu (11/8) pelaku dari kasus suap masih belum terungkap.

 

“Namun sampai dengan hari ini, tgl 11 agustus 2019 terhitung sgt jauh dari 30 hari kerja kasus ini juga belum ada kejelasan siapa yg menyuap dan disuap dan sanksi apa yg akan di berikan,” Ujarnya.

 

Kampus seakan-akan melindungi oknum pejabat kampus yang melakukan kasus suap. Kasus sudah lama berlarut-larut tanpa kejelasan. Belum terdapat titik terang mengenai penyelesasian kasus ini.

 

Kampus sebagai tempat untuk mengasah intelektual dan mencetak generasi bermoral seolah-olah hanya menjadi wacana tanpa ada teladan. Pejabat kampus semestinya memberikan contoh bagi mahasiswa tentang bagaimana bersikap jujur dan terus menyuarakan kebenaran. Namun, pada kenyataannya para pejabat kampus memberikan contoh tidak baik dengan menyelesaikan kasus suap ini tepat waktu dan selalu berkilah saat ditanya kelanjutan kasus ini.

 

“Jika kampus saja sebagai tempat mencetak generasi intelektual yg katanya berbekal moral dan pengetahun, orang-orang yang mengajarkan kita saja tidak mampu memberikan teladan dan contoh yang baik terutama dalam menyatakan kebenaran,lantas mau jadi apa anak muda yang didiknya,” Tegasnya.

 

Nilai-nilai moral yang seharusnya ditanamkan pada generasi muda selayaknya harus terus dipupuk. Nilai kejujuran, keadilan dan keberanian harus terus ditanamkan dalam sanubari pemuda khususnya mahasiswa. Jangan sampai nilai-nilai moral itu hanya menjadi sebuah teori dalam ruang kelas dan dinilai hanya pada saat melakukan ujian akhir semester atau ujian skripsi. Nilai moral yang seharusnya menjadi modal dasar para pemuda pada saat mulai terjun ke masyarakat akan tercoreng dengan perilaku birokrasi yang tak memberikan teladan.

 

“Jika nilai-nilai kejujuran, keadilan dan keberanian untuk berkata benar hanya ada dalam teori. Jangan heran jika semakin panjang barisan manusia-manusia yang akan ‘mengkadali’ manusia lainnya ! Dan hari ini kita di ajarkan hal itu di kampus, langsung dengan praktiknya,”

 

“Jika kampus tidak mampu mengahadirkan keadilan maka setidaknya kampus mampu menghadirkan kejujuran!,” Mengakhiri tulisannya.

 

(ton)

0
0