Mataram (BEM UNRAM) – Kunjungan Kerja (Kunker) puluhan anggota DPRD NTB ke bebrapa negara menyulut banyak kontroversi berbagai kalangan. Pasalnya kunjungan memakan biaya sekitar 3.5 Miliyar. Ditambah masa jabatan anggota DPRD NTB berakhir 30 Agustus 2019.

 

Bem Unram diwakli oleh Muhamad Muhtar Mandele selaku Sekjend mengecam keras keberangkatan anggota DPRD NTB untuk “Pelesir” ke luar negeri. Dana 3.5 Miliyar tentu terbilang sangat besar ditambah lagi dengan kondisi akhir masa jabatan yang tinggal menghitung hari. Kondisi NTB sendiri masih belum pulih total dari gempa satu tahun lalu membuat Mandele makin geram.

 

“Melihat kondisi daerah saat ini belum pulih sepenuhnya. Bahkan masih ada rumah dan sekolah belum diperbaiki. Dan anak-anak korban gempa masih trauma,” Ujar Mandele, Minggu (4/8).

 

Secara aturan “pelesiran” DPRD NTB memang tidak melanggar aturan karena sudah melalui mekanisme perizinan dari Mendagri. Tapi secara psikologis tentu saja banyak menimbulkan persepsi negatif. Dana sebesar itu seharusnya dialokasikan ke arah yang bisa dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat seperti bidang Pendidikan atau korban gempa.

 

“lebih baik dana ‘pelesir’ dipergunakan untuk turun langsung ke lapangan, melihat kondisi pasca gempa yang belum kondusif. Mungkin bisa juga dialokasikan untuk dibelikan tas,, sepatu, dan baju,” Lanjutnya.

 

Mandele akrab disapa meminta kunjungan kerja DPRD NTB di Benua Eropa dan Australia di “cencel”. Kunjungan kerja yang terkesan dipaksakan karena diketahui dari 65 anggota DPRD NTB, 42 orang gagal kembali terpilih dalam pemilu 17 April.

 

“kami meminta agar kunjungan kerja DPRD NTB tidak dilaksanakan. Kondisi NTB yang masih belum pulih akan membuat luka masyarakat NTB akan makin dalam,” Tutupnya.

(ton)

0
0