Oleh : Andi Hujaidin 

Universitas adalah tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan serta menjadi wadah lahirnya orang-orang yang berintelektual. Oleh karenanya universitas adalah tulang punggung suatu negara untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat luas dalam proses pendidikan, penelitian, serta pengabdian sesuai dengan amanat undang-undang dasar negara Indonesia yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Fungsi universitas lambat laun telah direduksi menjadi ladang basah serta praktek-praktek yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral bangsa. Alhasil lembaga ini mempunyai legitimasi absolut dalam memberikan penilaian terhadap prospek dan progres akan output yang ingin dicapai. Sehingga efek dari itu dapat berakibat pada minimnya pemahaman akan standar moral dari civitas akademika.

Di NTB terdapat universitas negeri ternama yang merupakan icon pendidikan di Nusa Tenggara Barat. Yang juga merupakan tujuan utama untuk melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi khususnya oleh masyarakat NTB. Universitas Mataram juga sangat dicintai serta dijaga dan selalu menjadi dambaan bagi para siswa-siswi. Alhasil universitas mataram sangat populer di masyarakat NTB.

Universitas dikatakan maju dan mempunyai reputasi bukan hanya di ukur dengan banyaknya prestasi yang diraih tetapi juga diukur dari bagus serta profesionalitasnya seluruh civitas akademika baik itu pejabat pimpinan universitas maupun pada unsur paling bawah dalam jajaran struktural. Apa hendak dikata jika prestasi mentereng yang didapat oleh universitas tetapi dalam pengelolaan serta pelayanan yang dilakukan sangat bobrok. Itu menandakan universitas sedang tidak sehat.

Dalam kasus yang terjadi baru-baru ini, bahwa adanya dugaan suap yang dilakukan oleh oknum dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) menandakan bahwa praktek-praktek yang dapat merugikan universitas itu sendiri dimata masyarakat harus diselesaikan tanpa pandang bulu. Sehjngga oknum-oknum yang menjadikan kampus sebagai ladang basah harus dipecat langsung tanpa alasan apapun.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) unram selaku lembaga tertinggi mahasiswa pun telah bersuara lewat tuntutan yang dilayangkan pada saat demo di depan rektorat akhir juni lalu. Dan mendapat jawaban dari pihak rektorat untuk mengungkap kasus tersebut dengan membentuk tim investigasi dan dengan batas waktu sampai satu bulan kasus itu sudah terungkap.

Tetapi sudah satu bulan lebih kasus itu belum juga terungkap, padahal dengan adanya tim investigasi maka akan lebih mudah dalam membongkar kasus tersebut. Tetapi faktanya tim tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.

Bapak rektor harus bisa melihat kasus ini sebagai awal dari pemberantasan terhadap praktek-praktek yang diluar dari tujuan universitas bahkan negara. Jangan sampai tim investigasi yang dibentuk hanya menjadi tameng kebusukan birokrasi. Bisa dikatakan pula cara universitas dalam menyelesaikan kasus ini masih diluar nalar mahasiswa pada umumnya serta BEM unram pada khususnya.

Sebagai seorang mahasiswa pasti merasa resah dengan berbagai persoalan yang mendera kampus tercinta, apalagi kasus itu telah tersebar di berbagai media lokal maupun nasional. Relasi universitas dengan penyelesaian kasus tersebut sangat kuat, dan ditakutkan kampus bisa bermain mata dengan pihak-pihak tertentu sehingga acuh tak acuh terhadap keresahan seluruh mahasiswa.

Kampus jangan sampai menghasilkan persoalan baru dengan berbagai macam kasus yang muncul, sehingga akan menihilkan progres penyelesaian kasus suap KKN dan membuat universitas makin tidak sehat dan bobrok. Kesadaran pimpinan universitas harus dilandasi dengan upaya menghapus segala bentuk praktek-praktek yang tidak bermoral dan licik serta jangan sampai terperangkap dalam praktek-praktek yang menggiurkan tapi merugikan.

0
0