Oleh : Lalu Giani Reja Alkagari

Beberapa minggu ini dunia pendidikan di hebohkan dengan wacana yang di keluarkan oleh Menristekdikti tentang pendatangan rektor di luar negeri. Di kutip dari detik news.com Menristekdikti Muh.Nasir menungkapkan bahwa pada tahun 2020 rektor akan di “impor” ke Indonesia,dengan dalih bahwa pendatangan rektor ini untuk memajukan perguruan tinggi yang boleh di katakan kurang berkembang.

 

Wacana ini  memiliki dua sisi mata uang kenapa? Pada satu sisi “import” rektor menandakan sumber daya manusia  yang dimiliki oleh Indonesia masih sangat minim. Di lain sisi banyak dan santer terdengan seruan untuk mencintai produk asli Indonesia.

 

Lebih baik dalam Pendidikan Indonesia ditingkatkan. Dalam segi kualitas Pendidikan, karena  Indonesia dalam segi kualitas masih terbilang minim. Lebih lagi biaya Pendidikan yang tergolong sangat mahal bagi rakyat Indonesia.

 

Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia masih terbilang minim. Lembaga PBB yang menangani  Pendidikan dan kebudayaan mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, ada 160.000 anak Indonesia yang putus sekolah. Menurut pengamat Pendidikan, Muhammad Zuhdan, sebagaimana dilansir suaramerdeka.com, Sabtu 3 Maret 2013, “Tiap menit, empat siswa putus sekolah”.

 

Hal tersebut tentunya membuat kita lebih sadar bahwa kulitas Pendidikan dan edukasi tentang pentingnya Pendidikan harus terus digalakan. Jika pentingnya Pendidikan bagi anak-anak terus digalakan tentu sangat berpengaruh pada kualitas Pendidikan di Indonesia. Dan anggaran yang rencananya di gunakan untuk mendatangkan rektor dari luar negeri  sebaiknya di gunakan untuk meningkatkan kompetensi para pendidik di negeri sendiri.

0
0